Matinya Sebuah Harapan
Samapai saat ini masih meyakinkan diri, kalau semua itu hanya mimpi. Atau sekedar candaan yang akan menghangatkan satu hubungan. Guyonan-guyonan kecil yang nantinya akan menjadikan hubungan ini semakin dekat dan semakin baik. Namun, waktu terus berjalan, hari demi hari terus berubah. Tapi apa? Semua meyakinkanku jika ini adalah benar-benar telah terjadi dalam kenyataan. Beberapa orangpun bertanya dan seolah tidak percaya, akupun bingung bagaimana harus meyakinkan mereka, sedangkan aku sendiri tidak yakin dengan semua ini.
Semuanya dijalani demikian, namun
ternyata tak ada tanda-tanda susuatu yang baik akan muncul. Kehidupannku mulai terganggu, semuanya berantakan, dan perlu energi lebih untuk dapat memulainya kembali. Setiap terbangun dari tidur, selalu berharap benar-benar terbangun dari mimpi buruk ini. Namun kenyataannya mimpi itu sudah terlanjur jadi kenyataan. Setiap dering SMS yang masuk, berharap SMS darimu yang memberikan kabar terbaik, namun hanya datang dari teman-teman lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan ini.
Mungkin dengan mudah kamu menyatakan kalau ini hanya merubah status, namun pesan yang kemudian samapai ke aku adalah, layaknya apa yang sedang pupuler di anak muda sekarang, “LOE… GW… END”. Sehalus apa pun cara kamu menyampaikan, itulah pesan yang kemudia sampai ke aku.
Aku menyadari, kehadiran aku dalam kehidupan kamu telah banyak mengganggu. Bahkan aku tak mampu mempertahankan kebahagiaan kamu lebih dari 3 hari. Dalam rata-rata hitungan aku, setiap 3 hari pasti ada konflik dalam hubungan kita. Tapi, perlu kamu tahu, bahwa semua yang aku lakukan saat itu adalah proses belajar untuk memahami kamu. Aku melakukan hal-hal baru dengan spekulasiku sendiri, dan melihat reaksi kamu. Dan tidak akan mengulangi jika reaksi kamu negatif.
Kamu mungkin tidak pernah tahu, betapa setiap mengirimkan sebuah sms, aku berdoa agar kata-kata yang tertulis di sana tidak ada yang melanggar hal-hal yang tidak kamu sukai, awalnya menurutku gombal itu adalah bumbu-bumbu sebuah hubungan, namun kamu tidak menyukainya, sehingga aku menghapuskannya permanen dalam komunikasi ku. Kemudian awalnya dengan mengatakan “aku sayang kamu” itu adalah kata yang akan mendekatkan hubungan kita, ternyata kamu tidak suka aku mengungkapakan perasaan, sehingga aku pun menghilangkan itu dari komunikasi aku. Kemudian saat aku sedikit keras mengingatkanmu untuk makan, maka kamu mengatakan kalau kamu bisa mengurus diri sendiri, dan tahu yang terbaik untuk kamu. Akupun kemudian tidak lagi membahas itu. Dan terakhir, saat aku memberikan sedikit masukan untuk langkah kamu, kamupun menyatakan kalau aku tak perlu repot-repot mikirin kamu. Kamu juga tidak menginginkan aku melakukan proteksi berlebih, sehingga aku percaya pada semua akun jejaringmu, dan tidak pernah menyentuh HP mu. Ruangku semakin sempit dalam menjalin hubungan dengan kamu. Namun, aku berusaha menjalani semuanya, kamu tahu alasannya mengapa. Karena saat itu masih ada ‘HARAPAN’.
Kini hari-hariku sedang tidak stabil. Sekali lagi, di awal dulu aku telah mengungkapkan bahwa aku menjalin hubungan bukanlah bagian hedon anak muda. Aku perlu HARAPAN panjang untuk dapat melangkah hubungan yang serius.
Dalam hubungan ini, HARAPAN itulah yang paling aku khawatirkan. Dari apa yang kamu sampaikan malam itu, dan alasan mengapa status ini harus berakhir, maka HARAPAN itulah yang sebenarnya telah mati. Kamu seolah menutup HARAPANku untuk bisa melangkah menghadapi dunia bersama-sama. Sehingga percuma saja saat ini aku punya cinta. Cinta tanpa HARAPAN, sudah pasti akan berakhir dengan tragis. Namun, andaikata yang mati adalah cinta, dan HARAPAN itu masih ada, maka aku akan terus memperjuangkannya.
Mungkin diakhir tulisan ini, aku tidak lagi mau memperjuangkan sesuatu yang sudah tidak ada harapannya. Aku harus tegas pada diriku sendiri. Aku tidak bisa mempertahankan hubungan yang kamu sampaikan, karena aku sama sekali tidak memahaminya. Mungkin kedepannya hubungan kita adalah hubungan profesional dan hubungan sesama mahasiswa KPM. Dan cara komunikasiku terakhir ke kamu adalah cara komunikasi yang biasa aku lakukan dengan teman-teman KPM. Begitulah aku berkomunikasi memiliki cara sendiri menurut kedekatan hubungan.
Sepertinya saran untuk meng-hide sementara tidak bisa aku jalankan, karena itu hanya akan menumpukkan sesak di dada. Memberikan harapan-harapan kosong, dan hanya akan menggangguku dalam melangkah. namun aku akan berusaha untuk men-delete semuanya. Berat, bahkan sangat berat. Namun sekali lagi aku harus tegas pada diriku sendiri. Dan saat ini aku yakin bahwa melewati sesuatu yang berat adalah ujian yang akan meningkatkan levelku menghadapik kehidupan di masa depan.
Aku harus terus menjalani kehidupanku. Aku harus kembali berlayar, berharap menemukan pelabuhan yang membuka harapan untukku. Entah, nanti kamu bisa datang dengan harapan baru atau tidak.
Terakhir aku meminta maaf, karena harus mengingkari janjiku waktu itu, dimana aku pernah berjanji tidak akan menjadi bagian yang mengukir sakit di hati kamu.
Disini aku hanya ingin menegaskan hubungan kita, HITAM dan PUTIH, tak lagi mau bertahan di ABU-ABU karena aku pernah membebani kamu dalam hubungan itu.
Silahkan menyimpulakan sedangkal inilah cintaku, itu terserah dan hak kamu…
Salam dariku untuk Perempuan yang ‘pernah’ aku cintai…