12 Komentar

Perjalanan Ekoman Ancol

Penelitian mata kuliah Ekologi manusia, inilah judul dari perjalanan kali ini ini. Diawali dengan persiapan perjalanan yang malamnya telah dikabari dengan jarkom aneh;

“”

Biarkan Gambar yang Bercerita

Pagi-pagi semua anggota sudah berkumpul di depan BNI Dramaga IPB, sambil mengecek lagi kelengkapan, ternyata ada satu personel yang datangnya telat banget. Udah gitu, konfirmasinya ga jelas lagi. Katanya seh lagi di pangkot, tapi kok dari pangkot yang jaraknya deket banget (kepleset, aja nyampe..) ga nyampe-nyampe. Hem, awal yang baik karena harus menunggu Yusuf yang kali ini ga jelas.

Foto DUFAN Ekoman

Setelah menunggu sekian lama, yusuf akhirnya datang dengan merasa tidak bersalah dan berdosa. Eh ujug-ujug dia ‘negbobol’ ATM. Nyedot uang dulu untuk ongkos perjalanan panjang.

Negosiasi angkot di mulai, dengan perkiraan dana 30-35 rb, ternyata mamang angkotnya mintanya 70 ribu. Wawo… dua kali lipan dari perkiraan, yah… setelah tawar menawar dia maunya 50 ribu. Tapi kita ga jadi mau, karena setelah diperhitungkan, (10 orang x 2000) x 2 = 40.000. jadi uang maksimal yang kita keluarin untuk ongkos angkot adalah 40 ribu. Lebih dari itu kita akan rugi kelebihannya tersebut. Jadi diputuskan dah kita ngeteng saja.

Wao beruntungnya.. angkit tersebut adalah angkot yang muterin musik ga abis-abisnya sampe ke bubulak. Karena lagu yang diputer adalah lagunya ungu, pak Niko jadi ga henti-hentinya menyanyi dan menyanyi. Yang udah ga kalah deh sama pengamen jalanan.

Dari bubulak kami transit angkot menuju stasuin kereta karena perjalanan ini memang sudah direncanakan sesmpurna mungkin. Biar lebih nyaman maka kami memutuskan ke kota unutk naik kereta AC ekonomia saja, selain nyaman perkiraannya akan jauh lebih hemat dana (biasa, mahasiswa, dana adalah pertimbangan utama). Dengan tergesa-gesa karena kereta sudah akan berangkat, kamu lari membobol penjaga tiket kereta (penjaga gerbang masuk), dan dengan lincah melewati beberapa awak kereta untuk masuk mengejar kereta yang akan segera berangkat. Al hasih…

Keretanya penuh Gila… jadinya masuk dah dengan kondisi seadanya. Berdiri menjadi salah satu bagian dalam penyesakan gerbong yang semakin nyata. Tapi sayangnya, setelah di cek, kami hanya mempunya 9 tiket dari sepuluh orang. Artinya Niko lagi yang disalahkan sebagai orang yang mengkoordinir tiket. Ini lah karena buru-buru. Terpaksa kami menyiapkan kocek untuk persediaan membeli tiket di astas kereta. Tapi ya sudah lah, banyakan ini, kalo ketauan kita kasih, kalo ga ga usah. Perlahan, dari depan bunyi “ckrek” “ckrek” mulai terdengar. Wah ini lah petanda kalu petugas karcis sudah datang. Akhirnya dengan kondisi penuh seperti itu, tiket yang kami miliki di kumpulkan di Sandy biar di periksa secara kolektif. Benar saja, kami lolos dari pemeriksaan tiket di atas kereta. Hahaha. Menikmati terus perjalanan yang makin menyesakkan, aktifitas di dalam kereta mulai bervariasi, puput yang lebih awal mendapat tempat duduk kelihatannya diam dan mungkin tidur kali ya? Dan Bang Alex dengan koran kompas di tangannya tidak berhenti membaca.

Satu per satu stasuin kereta dihampiri, sepertinya kami masih belum siap-siap untuk turun, bagai  mana bisa, tujuan kami ajalah jakarta kota, dimana di sanalah aku pertama kali melihat ujung jalan (ternyata jalan itu ada ujungnya, tepatnya seh ujung rel). Kereta berhenti di stasuin kota, dan inilah tujuan kami.

Kemudian kami langsung keluar, lari dari kesesakan, dan ternyata

Sesak sesak juga, dengan kondisi seperti ini, kekurang tiket kami tidak masalah karena penjaganya Cuma satu orang, tapi yang keluar bejibun. Di luar kami langsung bertemu denga iyang dan wulan yang tadinya kami berada dalam satu kereta namun berbeda gerbong karena mereka berangkat dari rumah masing-masing, sementara kami berangkat dari kampus tercinta.

Setelah pasukan kami full team, selain mbak Mariah, karena beliau sedang ke luar kota, perjalanan kami lanjutkan, ya elah… naik angkot lagi. Menuju TAMAN IMPIAN JAYA ANCOL.

Menyapkan ongkos dalam perjalanan sebesar 3000 per orang.

Kami sempat menikmasti pemandangan khas kota jakarta, yakni:

Air yang selalu menggenangi jalan-jalan kendaraan.
Akhirnya kami tiba di taman impian jaya ancol,

Dan segera menyiapkan diri untuk berfoto;

Kami langsung berjalan ke dalam

Dan segera membeli tiket masuk seharga 13.000.

Setelah tiket di tangan, kami langsung lah masuk ke kawasan Ancolnya.

Karena pejalan kaki, kami berjalan di trotoar yang memang sudah disediakan. Tapi sayang bau tidak sedap langsung mampir di hidung kami. Setelah di cek sumber baunya, ternyata ada selokan yang disamping trotoar tersebut yang sama sekali tidak terawat. Airnya saja sudah berwarna hitam.. mengerikan.

Dengan sekuat tenaga kami menerobos bau yang berusaha mengalangi perjalanan kami. Tapi berkat rahmat Tuhan Yang Mahas Esa, kami dapat melawatinya dengan sempurna. Sebagai tujuan utam penelitian, maka patung Dufan dengan senyum ramahnya menyambut kedatangan kami.

Setelah sedikit berunding,

Kami langsung mengunjungi orang yang akan menyambut kami untuk mempermudah penelitian nanti, namanya pak “lupa saya”. Dan melihan keramahan sambutan dari patung tadi, sambutan dari bapak tersebut sama ramahnya. Hanya saja sangat di sayangkan, kami terbentur oleh birokasi yang aga berantakan, walaupun sudah menghubungi sebelumnya, dan telah membawa surat dari Departemen ternyata ada satu tembok birokrasi yang belum kami hancurkan, sehingga kami memutuskan untuk,

Bengong sejenak.

Karena kejujuran dan kecerdasan kami (ga tau ini maksudnya apa), kami memutuskan untuk memecahkan tembok birokrasi tersebut. Kami mengirimkan delegasi ALEX dan NIKO untuk datang ke kantor pusat Taman Impian di suatu tempat. Dengar dengar dari mereka seh, perjalanannya menyenangkan, tapi ga bisa saya ceritain karena saya ga ikut. Setelah melepas kepergian mereka berdua, maka kami yang masih berada di kawasan Dufan memutuskan untuk berada dalam acara bebas, ada yang istirahat, foto-foto, nanya-nanya ke petugas kebersihan, ke toilet, dan aktivitas buang-buang waktu lainnya.




Sedang asik menyusun strategi selanjutnya, tiba-tiba turun hujan yang cuk deras, yah.. mau tidak mau, kami terpaksa meneduh di trotoar karena diatasnya ada atapnya. Namun entah dari mana, segerombolan kera-kera ekor panjang juga ikut meneduh di dekat kami, jadinya kami harus berbagi tempat dengan mereka,tapi monyet-monyet itu meneduhnya di atas-atas kok, dekat atap-atap tersebut.

Kami menunggu hujan reda cukup lama juga, tapi kami masih lebih lama menunggu kepulangan alex dan niko, karena sampai hujan muali reda, mereka belum pulang juga. Hem… melihat jam yang kala itu sudah sangat siang, dan waktu shalat dzuhur sudah masuk. Untuk sejenak beristirahat kembali, kami memutuskan unutk melaksanakan shalat. Teman-teman yang sedang tidak shalat menunggu di luar, dan kami melaksakan shalat.
Disinalah cerita dimulai, usai shalat tanpa tau penyebab pasti, saya melihat ada kepanikan di luar sana, saya tidak ikut panik awalnya, karena saya sama sekali tidak berfikiran negatif, perlahan dari mushola saya dan yusuf mendekat ke teman-teman, kami melihat saat itu wulan setengah pingsan. Tema-teman berusaha untuk menolongnya, memberikan teh manis. Namun semua sia-sia. Kondisi wulan semakin lemah.


Dia sempat dibantu oleh tukang urut yang kebetulan sedang ada di sana, kepala dan tangannya di urut, tukang urut tersebut menyatakan bahwa kondisi tersebut adalah bagian dari penyakin mag, memang saat itu sekitar pukul satu kami belum makan siang. Seorang scurity di sana segera mencari pertolongan. Dan saat disinilah kami kembali bergabung bersama alex dan niko. Kondisi wulan yang semakin melemah, memberikan kami kepanikan yang sangat. Sehingga kami dan petugas keamanan yang di tempat itu memutuskan untuk membawa wulan ke mushola untuk istirahat. Sesaat setalah di bawa di mushola, mobil jemputan kesehatan datang. Tapi, saya dan teman-teman semapat merasa aneh juga. Bagaimana mobil jemputan itu bukanlah mobil kesehatan. Melainkan mobil patroli yang mungkin saat itu sedang bekerja. Wulan kami bawa untuk naik ke mobil tersebut untuk di bawa ke PPPK. Setelah wulan naik di depan, maka petugas keamanan menyuruh kami, teman-teman wulan untuk naik di belakngan mobil patroli. Mobil langsung berangkat, namun karena-buru-buru, Niko tertinggal di lokasi tersebut, tadinya dia memang sedang membeli makanan. Namun, kami percaya kalau niko sudah tau daerah tersebut sehingga kami tidak perlu khawatir, beda halnya jika yang tertinggal adalah ALEX, semuanya akan semakin dahsyat. Perjalanan menuju PPPK. Kami berada di belakang mobil patroli, sejenak kami sempat berfikir kalau kami seperti pelaku kriminal yang tengah di bawa oleh petugas keamanan… hahaah…


Kami tiba di Kantor PPPK, wulan dengan kondisi yang sangat lemah di bawa ke ruang perawatan dengan kursi roda.

Dengan penanganan yang baik dari petugas PPPK, kami mulai sedikit tanang.

Tiba-tiba niko yang tadi sempat tertinggal, dengan keringat bercucuran datang dengan membawa sepeda dan dua bungkus makanan. Nasi dan dan ayam diberikan kepada wulan, sementara kentang goreng dimakan bersama di luar, karena kondisi yang memang muali lapar.
Di tempat inilah kami mulai mendapatkan kecerahan tantang apa yang akan kami teliti, sebuah majalah terlihat yang dikeluarkan oleh Ancol yang sesuai dengan penlitian kami. Wao…menarik,.. hasil penelitian di dapatkan di kantor PPPK.

Sesaat setelah mendapatkan perawatan, dan setelah makan, kondisi wulan mulai membaik. Dia sudah langsung tersenyum saat itu, namun kami putuskan untuk tidak langsung pulang meninggalkan PPPK, karena kami sedang membeli makanan secara kolektif oleh niko, yusuf dan sandi. Sambil menunggu mereka. Puput, Shela, dan Saya keluar sejenak. Ternyata di samping PPPK itu ada pantai yang lumayanlah digunakan untuk menunggu makanan datang. Foto-foto sejenak adalah kegiatan yang menarik.

Kami juga sempat memainkan beberapa permainan anak-anak. Tidak apa-apalah, biar uang yang sudah di keluarkan untuk masuk ancol tidak sia-sia.
Sambil menunggu makanan datang kami terus memandangi lautan, melihat aktifitas2 yang ada di sana..

Sesaat wulan dan teman-taman yang lain yang tadi kami tinggal di PPPK datang. Kondisi wulan sudah kembali FIT. Buktinya bisa langsung ikut foto-foto lagi…

Menikmati pemandangan laut terus kami lakukan, hingga makanan yang sudah kami-tunggu-tunggu datang juga. Makanan ternyata tidak memberikan daya tarik seberapa. Karena kedatangan mereka kami awali dengan foto kelompok penuh.
Inilah kami semua pejuang yang kala itu hadir..

Barulah setelah foto, kita menikmati makanan seharga 11500 yang telah kita beli. Kami makan bersama tepat di tepi lautan. Sensasi baru untuk makan bersama teman-teman.

Belum usai makan, hujan tiba-tiba turun lagi, senjata pamungkas mahsiswa IPB langsunglah keluar.

Pakai payung di tepi pantai, masih merupakan sesuati yang aneh di mata saya. Tapi payung saya pun keluar saat itu.
Setelah usai makan, kami kemudian putuskan untuk pulang. Untuk dapat pulang, maka setidaknya kami harus kembali dulu ke tempat awal kami berhenti. Dan posisi kami saat ini lumayan jauh dari lokasi tersebut, kami membutuhkan kendaraan untuk sampai ditempat semula. Sehingga kami terpaksa menunggu bus ancol yang lewat berkeliling menghantarkan penumpang. Ternyata menunggu bus itu bukan sesuatu yang mudah, sangat lama kami berdiri di tepi jalan untuk menunggu kedatangan bus. Namun sayangnya, tiga kali kejadian yang mengesankan. Terlalu lama menunggu membuat kami bosan dan capek sehingga kami memutuskan untuk menunggu di sisi lain jalan. Baru selesai menyebrang, bus yang kami tunggu-tunggu lewat di jalan yang tadi dari awal kami menunggu. Di posisi sekarang, kami juga menunggu sangat lama, sehingga setelah bosan, kami menyebrang lagi ke posisi awal. Namun sangat disayangkan, bus lewat lagi diposisi yang baru kami tinggalkan. Dan disini kami menunggu sangat lama. Hungga kami putuskan untuk pulang dengan berjalan kaki. Belum juga selesai menyebrang, bus lewat lagi di tempat yang baru kami tinggalkan. Belajar dari tiga kali kejadian aneh ini. Maka kampi putuskan untuk menunggun selama-lamanya.


Lagi asik dalam proses menunggu, entah dari mana datangnya. Sebuah nasi bungkus jatuh di dekat kami. Wah mungkin itu nasi jatuh dari langit kali ya. Pokonya sangat tidak masuk akal nasi bungkus itu datangnya dari mana. Kirain awalnya meteor. Hahah
Dengan kesabaran menunggu, bus yang kami nantikan tiba juga. Dia berhenti didepan kami. Kami tenang, perlahan menaiki bus. Hingga sampai pada pintu keluar Ancol.
Keluar dari ancol, kami langsung menyebrangi jalan. Bersama-sama menaiki angkot untuk kembali ke stasuin kota. Angkot berjalan perlahan dan semakin cepat. Tiba-tiba, dari kaca belakang angkot kami melihat niko melambai-lambaikan tangannya. Ya ampun… niko ketinggalan lagi…
Dia menyusul kami ke stasuin kerta, di sana kami dan dia berpisah karena dia pulang ke rumah. Kami mebeli tiket kerta pakuan ekspress, karena kami lihan keberangkatannya paling awal. Kami juga membutuhkan kenyamanan fisik, karena kondisi yang sudah sangat kelelahan.
Di stasuin itulah kami sempat bertemu dengan kelompok ekologi manusia, yang lain,ternyata objek mereka juga ancol.

Tapi, pakuan express datangnya tidak tepat waktu, sehingga mereka yang seharusnya pulang lebih belakan, berbalik. Kami yang harus menunggu kereta lebih lama.
Setelah kereta kami datang, dengan perinsip “kalo mau dapat duduk, harus egois” maka kami berebut masuk ke gerbong kereta. Saya alex dan Yusuf serata taman-teman cewe yang lain, langsung mendapatkan tempat duduk yang nyaman. Merasa tenang sejenak. Tapi rupa-rupanya kami bertiga harus mengalah dan keluar dari gerbong tersebut. Kerena di bagian atas gerbong tersebut ada sebuah label berwarna PINK yang menandakan kalau gerbong tersebut adalah gerbong khusu perempuan. Wah,,, sepertinya tiba-tiba ingin jadi perempuan kala itu.
Dengan perpindahan gerbong. Syukurlah, kami masih mendapatkan tempat duduk. Tempat duduk yang tidak senyaman orang lain, karena kami bertiga harus duduk di lantai gerbong dekat pintu. “bayar sama MAHAL, Fasilitanya beda”. Hikhik… kereta terus berjalan menuju Bogor. Suasana dalam kereta terasa semakin dingin. Sehingga almamater aku jadikan jaket untuk menahan rasa dingin yang menusuk tulang (lebay,,,,).
Kami akhirnya tiba di stasuin Bogor, dan langsung pulang ke Kampus, kampung halaman sementara,,,,

Perjalanan berakhir. Istirahat pekerjaan yang paling aku impikan sesampai di kosan.
Perjalan sehari itu, jauh lebih dahsyat dari apa yang saya tuliskan di sini, ini hanya bagian kecil yang sempat saya rekam. Perjalanan ini masuk dalam tujuk perjalanan paling GILA dalam hidupku.

Iklan

12 comments on “Perjalanan Ekoman Ancol

  1. LIKE THIS LAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHH

  2. huaaa,, foto gw nyah jeleg amat,,
    kyknya ptualangan lw seru juga bang, pake naek mobil patroli sgala,,hehe

  3. Perjalanan yang sudah ditakdirkan..
    Masih season 1 nii,,smgat untuk season selanjutnya..
    Kelompok hula hula bahagia sentausa 😀

  4. mari kita garap season berikutnya…
    Takdir menjadi sebuah cerita hidup. sejarah terukir bersama kelompok EKOMAN Hula…Hulaa…Hulaaa…

  5. Nice story,, hahah,,, kapan lagi bisa merasakan pahit asem nya masa kuliah… Serunya penelitiannya keancol pula, jadi iri.

  6. Ngakak abisssss. Kocak beud. Saluuut sm perjuangan kalian 😀
    Lain kali kalo naik angkutan, itung personilnya. Hehehe
    Kel scout island alhamdulillah sangat d mudahkan. kerasa liburan 😀

  7. gila… kreatif lw gannn.. saluuuttt

  8. keren AHA… nngakak abis pas bagian niko ketinggalan 2x…hwahahahahhaha
    keren2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: