8 Komentar

Sepasang Sepatu dan Sebuah Kaos Kaki

Whaaaaaa…. Bangun kesiangan. Hari ini kuliah mulai jam 7.00. Aku baru bisa berdiri tegak melawan lelahnya badan akibat aktivitas kemarin pukul 7.59. Butuh satu kedipan mata lagi agar waktu berubah menjadi pukul 08.00. Dengan santi mulai berjalan ke kamar mandi. Huh… sudah tidak udah kuliah saja. Begitu setan membisikkan kepadaku. Tapi secara logika pun, jika aku tetap masuk, maka aku hanya datang untuk menutup pintu dari luar kelas. Sebuah sms tiba-tiba masuk. “aha kuliah ga? Hari ini absen dua kali”. Waduh… parah.. kalo ga masuk artinya ga dapat absen kuliah. Bisa-bisa ga bisa ikut UAS nanti. Hem dengan semangat, mulai buru-buru.

Langsung ke kenakan kemeja kotak-kotak cokelatku. Hem.. pakai minyak rambut. Dan parfum buat cuci tangan dari sisa-sisa minyak rambut. Hem.. kuangkat tas rangselku. Huih… semua sudah siap. Mirip seperti mahasiswa yang akan berangkat kuliah.

Persiapan berangkat. Saatnya menggunakan sepatu. Tapi… tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak… sepatuku tidak ada di tempatnya. Sebuah rak sepatu merah dari plastik. Baru kali ini aku meletakkannya di sana. Lupa memindahkannya ke dalam rumah. Karena tadi malam benar-benar kelelahan.

Kuanalisis matang-matang. Sepatuku benar-benat tidak ada di tempat. Aku berbalik badan, dan melihat kembali. Wah tidak ada. Kututup mata. dan kulihat perlahan. Wah ternyata bener-bener ga ada. Hem.. ku coba sekali lagi. Aku pergi ke kamar. Dan kembali lagi. Ternyata memang sudah tidak ada. Hem… benar-benar tidak ada. Ya sudah lah. Aku pasrah.

Tak sengaja, mataku terarah ke sebuah kain putih. Eh.. bukan. Itu adalah kaos kakiku. Masih tampak sangat bersih. Kaos kaki ini baru saja di pake kemarin. Kuambil kaus kaki itu. Kulihat masih ada bekas gabus atau busa kaki badut yang kemarin aku pakai. Hem… kasihan sekali kaos kaki ini. Dia dipisahkan dengan pasangannya. Berarti semalam dia sudah hidup sendiri. Kasihan dia. Pasti kesepian. Sangat kesepian. Temannya mungkin di bawa oleh maling. Entah, bagaimana nasib temannya di tangan orang jahat tersebut. Pasti kaos kaki ini menangis. Khawatir terjadi apa-apa pada pasangannya tersebut.

Melihat kesendirian kaos kaki itu. Aku bersedih. Air mataku mengalir (ini mah kaga ada,,,, Cuma di dramatisir saja). Sedih sekali rasanya jika di tinggal pasangan seperti dia. Hikhik.. sedih-sedihannya harus di akhiri. Aku tidak boleh meratapi masa lalu. Aku masih punya masa depan untuk di lalui. Hem… sejenak berfikir. Bagaimana caranya aku kuliah? Menggunakan sandal? Wah.. ini seh namanya masuk ke kandang buaya. Udah telat masuk. Kaga pake sepatu lagi.

Aku kemudian teringat ungkapan lama. “kalau ada teman baru, maka teman lama jangan dilupakan”. Aku kemudian terfikir kembali. Kalau ada sepatu baru. Jangan lupakan sepatu lama. Kulihat kembali sepatu lamaku. Kulihat dia sudah terbungkus rapi di dalam plastik kumel. Nyaris letaknya sudah masuk ke tong sampah. Sebuah sepatu lama yang sudah sangat hancur. Tapi tidak apa lah. Setidaknya dia bisa membantuku hari ini. Aku tetap harus kuliah. Hem… perjalanan menarik hari ini. Semoga sepatuku tidak di apa-apakan oleh orang jahat itu. Dan kaos kakiku selamat dan bisa bertemu dengan pasangannya di suatu waktu nanti.

Iklan

8 comments on “Sepasang Sepatu dan Sebuah Kaos Kaki

  1. nyante aja kali gan, toh dua kali kan emang jatah bolos :p

  2. wah sepatunya kayaknya lagi ngambekan sama kaos kaki makanya dia pilih meninggalkan si kaos kaki. atau mungkin si kaos kaki lebih cinta sama sepatu lama, makanya dia ngusir si sepatu baru.
    ah memang butuh seorang detektif untuk menyelesaikan masalah ini.
    😀

  3. kaos kaki boleh selingkuh dunk hahha

    http://www.dhezign.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: