84 Komentar

Alasan Kuat, Mengapa IPB tidak umumkan Susu Berbakteri sakazaki

Kasus yang satu ini, bak sebuah gelombang dahsyat yang sedang menerpa ibu-ibu yang memiliki Balita saat ini. Kasus ini, di media massa statusnya bahkan stara dengan kasus-kasus besar lainnya. Kasus besar Bank Century sudah pasti terlewat jauh, kasus seperti gayus pun telah lenyap. Penyerangan Ahmadyah di Pandeglang juga lewat oleh peristiwa yang satu ini.

Sebenarnya… apa alasan sebuah institusi IPB untuk memilih menutup ‘mulut’ untuk kasus yang sedang berlangsung ini? sebuah jawaban dari dosan di kampus saya, yang bisa memberikan pemahaman apa sebenarnya alasan di balik itu. Etika ilmiah dan hukum yang memang saat ini belum sejalan. bermula dari statu dosen tersebut:

Arya Hadi Dharmawan : Sampai manakah batas kekebalan hukum sebuah “aktivitas riset ilmiah (menyangkut barang yg dikonsumsi publik) yg menghasilkan temuan ilmiah utk pengembangan ilmu” hrs diungkap ke publik? Bila setiap hasil penelitian kritis yg dilakukan oleh ilmuwan perguruan tinggi dipaksa utk diungkap ke publik, dan setelah itu penelitinya dituntut, maka ke depan tak akan ada lagi penelitian kritis yg dilakukan oleh para ilmuwan…

Dari statusnya tersebut… saya kemudian membuat sebuah tulisan di salah satu forum mahasiswa IPB, kebetualn beliau saat itu bergabung di sana… saya menulis….

Abdul Haris : Apa sebenarnya alasan IPB tidak mengumumkan Susu Formula yang mengandung bakteri sakazaki???
*masih tanya-tanya…

Beliau kemudian menjelaskan:

Arya Hadi Dharmawan
Salam prihatin, 

Hasil penelitian ilmiah yg dilakukan oleh tim dosen IPB ttg kandungan bakteri enterobacter pada susu formula utk bayi, memasuki babak baru perdebatan publik yg mulai menyita perhatian. Entah kenapa isu ini sama-sama besarnya …dgn isu konflik horisontal Cikeusik dan Temanggung, di panggung TV nasional.

Pokok persoalannya, sejumlah konsumen menuntut IPB untuk membuka ke publik, ttg susu formula merk apa saja yg tercemar bakteri tsb. Alasannya, para konsumen khawatir para balitanya terkena bakteri yg katanya mematikan itu. Proses hukum telah putus di level MA. Pada tataran ini IPB menghadapi dilema (sekaligus jebakan) yg tidak mudah.

Bila tuntutan ini diikuti, maka IPB terkena dua jebakan sekaligus: (1) layakkah secara etika-keilmuan, penelitian ilmiah dibuka ke publik? Bila IPB membuka hasil penelitian ini ke publik, maka ciri lembaga keilmuan IPB (khusus dalam kasus ini) berubah mjd layaknya LSM. IPB pun dianggap mencederai etika saintifik-akademik; (2) diduga ada motif “ekonomi politik” bermain di “panggung belakang” proses penuntutan ini. Bila IPB mengumumkan merk susu formula ke publik, maka tak bisa dijamin para kapitalis produsen susu itu tak akan menuntut balik ke IPB. Pada titik ini IPB akan menjadi “bulan-bulanan” para pemilik modal besar susu formula yg headquater-nya hampir semua berada di negara-negara adidaya ekonomi itu.

Artinya, IPB sedang dijebak, (dalam hal ini) oleh tiga aktor sekaligus: (1) publik/konsumen susu formula; (2) etika akunrtabilitas [hukum positif], (3) “singa-singa” kapitalis yg siap menerkam IPB.

Pertanyaannya bagi kita dibalik keprihatinan ini adalah: Sampai manakah batas kekebalan hukum sebuah “aktivitas riset ilmiah (menyangkut barang yg dikonsumsi publik) yg menghasilkan temuan ilmiah utk pengembangan ilmu” hrs diungkap ke publik? Bila setiap hasil penelitian kritis yg dilakukan oleh ilmuwan perguruan tinggi dipaksa utk diungkap ke publik, dan setelah itu penelitinya dituntut, maka ke depan tak akan ada lagi penelitian kritis yg dilakukan oleh para ilmuwan…

Kuatlah IPB-ku, jangan menyerah…

Salam
Arya H Dharmawan

Sebuah pencerahan, menggambarkan alasan mengapa IPB memilih untuk berdiam diri dalam kasus tersebut…

haruskah publik memaksa IPB untuk mecederai Etika Ilmiah yang sudah ada sejak awal?

Dan ajakah jaminan untuk IPB, bahwa IPB tidak akan dituntut balik oleh sang raja Kapitalis?

tak ada jaminan untuk itu…

Silahkan Ke sini untuk teman-teman yang membutuhkan reverensi tambahan….

Iklan

84 comments on “Alasan Kuat, Mengapa IPB tidak umumkan Susu Berbakteri sakazaki

  1. saya juga agak khawatir dengan jebakan kaum kapitalis. tapi menurut saya, harusnya kita lebih mementingkan kesehatan masyarakat… memenuhi hak2 konsumen untuk mengetahui seluk beluk barang yg mereka konsumsi…

  2. ehh nanya, Arya Hadi Dharmawan siapa tu kak??

  3. bagaikan makan buah simalakama ya,Gan..
    🙂

    • Yupzz… seperti itu lah posisi kita… raksasa kapitalis sedang menyiapkan persenjataan untuk memporak-porandakan IPB.. jika IPB berkicau tentang hal ini… jadinya, IPB semoga bisa tetap bertahan untuk tidak menanggapi tuntutan ini…

      biarkan berita ini basi di makan waktu… seperti berita-berita besar lainnya.. yang entah mengapa hilang di timpa berita kecil semacam ini…

  4. saya seorang ibu yang mempunyai satu orang anak laki2, anakku sekarang ini kuat sekali menyusunya, sedangkan saya sedang dilema dengan merek susu yang saya gunakan sekarang, apakah susu yang saya berikan kepada anak saya itu terkena e sakazaki atau tdk??? siapa tau khan??? tolong lah, kalau memang sudah ada hasilnya, mana saja susu formula yang terkena sakazaki itu, informasikan kepada publik, tetapi diberikan juga alasan pasti dan kuat untuk diterima oleh si perusahaan susu itu, sehingga mereka2 itu tidak bisa menuntut balik IPB, siapa yang mau kalau anak yang kita sayangi selama ini terkena sakazaki itu??? tolong lah beriktahukan kami para orang tua yang ingin memberikan susu formula kepada anak kesayangannya…..tolong di renungkan kembali!!!terimakasih

  5. Apapun resikonya, kebenaran harus diungkap. Sebenarnya IPB tdk perlu khawatir dengan “jebakan” di atas. Jika bukti ada, saya kira masyarakat konsumen akan “membela”. Apalagi jika yang dikhawatirkan adalah tuntutan balik dari para produsen. Inilah saatnya, akademisi berperan untuk masyarakat. Semoga ilmuwan2 kita mempunyai keberanian untuk menyampaikan kebenaran.

    • Hem.. ketika kita berhadapan dengan elang… maka setidaknya kita sudah menjadi seekor elang… bagai mana mungkin sekor merpati berani memaksakan diri melawan elang?
      Artinya… Bukti apakah yang saat ini di miliki sang peneliti tersebut? kecuali hanya berupa hasil penelitian laboratorium dari sampel susu YANG DI DAPATKAN PADA TAHUN 2003-2006….
      Tidak kah perusahaan susu bisa menuntut? semntra sampel susu yang saat ini beredar sudah tidak valid dengan pelelitian tersebut?

      Ketika kita berbicara pada Resiko… siapa peneliti independen yang berani mengambil resiko sebesar itu.. jangan kan satu instansi pendidikan sekala ini… NEGARA INI SAJA BISA DIGONCANG oleh kaum kapitalis..
      __
      Sekarang,.. tidak usah kita pertanyakan lagi susu tersebut.. yang pasti BPOM telah meneliti dan menyatakan susu yang beredar semenjak 2008 itu aman… tidak usah lagi khawatir….

    • penelitian tersebut bukan penelitian yang berjalan pada waktu dekat. dan apabila sekarang dari pihak BPOM telah meneliti dan tidak menemukan kandungan dari E sakazaki pada susu2 formula yang beredar pada prinsipnya warga tidak perlu resah dan pihak IPB tidak perlu lagi melaporkan hasil penelitian yang telah berjalan beberapa tahun yang lewat!!

  6. yap! Mau sampai kapan akademisi hanya berkicau dalam lab? sudah saatnya kita terjun mengabdi kepada masyarakat.

    Namun, patut disadari memang. Halangan yang ada di luar sana terasa begitu menghalang

    • Iye gan… peneliti harus punya sangkar yang kuat untuk bisa berkicau.. kalu tidak… elang-elang itu pasti akan memangsa…

  7. Kasus ini mulai merebak sejak tahun 2008. menurut saya seharusna produsen susu formula tersebut sudah meningkatkan pengawasan dalam memproduksi susu formula. dan benar, jika memang BPOM belum mengeluarkan pengumuman, artinya tidak ada masalah dalam susu tersebut. Jika memang ada susu formula yang berbahaya, tentunya pemerintah akan langsung melakukan penarikan susu formula tsb.

  8. apakah ipb bisa bertanggung jawab jika susu skarang tdk mengandung bakteri zakazakii lg, krn di sini nyawa dipertaruhkan

  9. kenapa jadi dibesar-besarin y??

    media terlalu memprovokasi masyarakat ttg keadaan susu yang tercemar bakteri E.sakazaki ini.

    bukannya cara pemusnahan bakteri ini cukup mudah?
    susu yang akan dikonsumsi cukup diseduh dengan air yan suhunya 70-80 derajat celcius…

  10. ipb sudah melakukan tugas utama titik. yang secara legal/ hukum berkewajiban memfollow up, silahkan menindak lanjuti. karena menyangkut hal sensitif dan kompleks, saya mendukung ipb bermain aman tetap fokus tugas utama.

  11. Alangkah lebih baik masyarakat mengetahui prosedur pembelian, penyimpanan, pembuatan produk pangan yang baik dibandingkan penasaran dengan merknya. Sudah dipublikasikan bukan mengenai cara pembuatan dan penyimpanan susu yang baik dan higienis sehingga aman dari Enterobacter sakazaki. Lakukan saja karena apapun merk nya, toh bakteri itu akan mati. Karena tidak hanya susu formula, semua pangan akan berbahaya jika tidak dilakukan proses pembuatan, penyimpanan, dan industri yang baik. Beberapa kalangan Indonesia lebih berpikir sesuatu yang justru menambah pusing terhadap suatu masalah dibandingkan melakukan hal yang lebih mudah seperti tindakan preventif nya. Untuk Ibu Rifa, saya tahu ada banyak problem pemberian susu ke anak baik melalui susu formula / ASI. Jika memang ASI tidak bisa dikondisikan, lakukan saja tindakan preventif pemberian susu formula terhadap anak Ibu sesuai anjuran klinis. Termasuk tidak memberikan susu formula yang masa penyeduhannya sudah lebih dari 2 jam. Lebih baik membuat baru. Terima kasih.

  12. sebenernya dulu tujuan awal penelitian ini dalam rangka apa dan untuk apa ciyh ?? kuq bisa susu formula bayi yang diteliti ?? mungkin pertanyaan ini juga ada di benak khalayak yang tidak tahu akan hal ini… mungkin jika ada penjelasan tentang penelitian ini bermula darimana dan kemana akan sedikit melegakan hati dan membuka jalan sebenarnya permasalahan ini bagaimana arahnya…

  13. Penelitian yang awalnya mencari penyebab diare pada bayi, dengan fokus pada Salmonella, Shigella dan E. Coli sebagai bakteri penyebab diare, justru menemukan Enterobacter Sakazakii.

  14. jika anda seorang ibu…. mungkin anda pernah merasakan bagaimana rasanya melahirkan…
    bila perjuangan saat melahirkan terserbut harus sia-sia ketika anak anda menjadi korban dari susu formula tersebut relakah anda wahai ibu yang bijaksana…
    tataplah buah hati anda saat ini….
    ada ribuan ibu yang yang menuanggu di luar sana….
    yang menginginkan buah hatinya tumbuh dewasa….
    menjadi harapan keluarga…
    atau perlukah JATUH KORBAN JIWA agar IBU YANG BAIK HATI ini mau menyelamatkan anak-anak kami…..

    • Saya juga ibu dengan tiga balita, juga merasakan merasakan perjuangan melahirkan. Tapi saya juga akademisi bidang mikrobiologi. E.sakazakii tidak perlu dikhawatirkan, wahai ibu-ibu. Penuhi saja standar penyiapan susu yang benar. Dan tentu saja, ASI is the best

  15. bisa juga karena beberapa dosen IPB adalah konsultannya.. merek2 susu Kapitalis tersebut… jadi takut angkat bicara

  16. Kita harus mengerti juga kepada IPB, IPB sebagai pihak peneLiti yang saat ini daLam posisi diLema….

    jadi, sebaiknya kita jangan memaksa agar IPB mengumumkan merk susu formula tersebut…
    sebaiknya kita Lebih hati – hati saja daLam proses penyajian susu formuLa tersebut… karena merk apapun yg dikonsumsi, jika penyajiannya tdk sesuia dgn prosedur dan tdk higienais, maka akan berbahaya bagi anak – anak kita…

  17. penelitian diadakan tahun 2003-2006, pada SAAT ITU ditemukan.. nah yang kita pikirkan adalah sekarang.. badan POM RI menyatakan, SEKARANG sudah TIDAK DITEMUKAN LAGI.. apa lagi yang kita permasalahkan???

    itu juga gunanya setiap produk punya syarat dan aturan penyajian pada produknya, ikuti saja, maka insyaallah semua aman..

  18. mnurut saya harusnya pmrintah lah yang harus mnyelesaikan msalah ini. lindungi ipb dari kganasan pra kpitalis. ipb harus mngumumkan merk” su” yang trcemar. klow toh kmdian ipb mndpat imbas dari itu. pmrinth hrus turun tngan.

  19. penelitian dilakukan pada tahun 2003-2006 kemudian ditemukan bakteri Enterobacter Sakazakii dan kemudian telah di presentasikan di depan stakeholder prosuden susu tersebut.setelah itu dilakukan pengujian kembali pada tahun 2007. dan hasil yang diperoleh adalah tidak adanya bakteri Enterobacter Sakazakii.

    pernyataan tersebut telah di uji secara ilmiah yang kemudian d sah kan oleh BPOM.
    lalu kenapa sekarang diperdebatkan kembali ?
    seorang ilmuan harus memiliki kode etik dalam setiap aktivitas ilmianya.
    jangan sepenuhnya menyalahkan sebuah institusi.
    institusi pertania bogor hanya melakukan sebuah riset tanpa bermaksud untuk menyudutkan pihak mana pun!!

    • klow emag pd 2007 tlh d adkan pngjian kmbali. dan hasilnya. pztif tdak mngandung bakteri. ya mgkin g akn ad brta mngenai mzlah itu saat inie…..

  20. udah g ush ribet,bkn aj pnltian lg buat yg skrg, *kan pnltian tu bbrp taun lalu* msh ad ap kg noh bktrinye, kalo msh ada ya diumumin lah,ksian ibu2 aplg bayi2 sbg cln ms dpn bgsa cm gr2 kpntgn golongan,eh jd krbn,mau jd ap bgsa ini? Kl gak ada, ya jg dksh tau kalo uda g ad bktri tu di susu frmula.clear g? Bc bismilah dl y para org2 pntar yg ktny berilmu.

  21. Semoga semua tetap dalam koridornya masing-masing,
    terkadang maksud baik tidaklah cukup tanpa disertai keinginan memahami keadaan lingkungan.
    Mohon izin buat share

  22. Dari komentar2 di atas sepertinya masih belum banyak yang paham. coba baca juga sumber2 lain agar tidak menjudge suatu institusi…pahami dan jangan asal bicara.
    sumber yg bisa dibaca:

    http://adilazhabrina.blogspot.com/2011/02/kasus-susu-bakteri-ipb-tidak-lempar.html

    http://metrotvnews.com/read/tajuk/2011/02/17/675/Heboh-Susu-Formula-Berbakteri/tajuk

  23. setelah saya membaca alasan yang dikemukan oleh IPB melalui tulisan Arya H Dharmawan diatas yang berakhir dengan pertanyaan sebagai berikut :

    haruskah publik memaksa IPB untuk mecederai Etika Ilmiah yang sudah ada sejak awal?

    Dan ajakah jaminan untuk IPB, bahwa IPB tidak akan dituntut balik oleh sang raja Kapitalis?

    maka saya jawab dengan :

    publik tidak pernah memaksa IPB untuk mencederai etika ilmiah, akan tetapi sudah kewajiban bagi siapapun atau lembaga manapun yang memiliki sebuah hasil studi atau penelitian yang menyangkut dan melibatkan publik atau menyakut nyawa seseorang atau menyangkut keselamatan jiwa seseorang, sudah selayaknya wajib bagi seorang manusia yang lebih mengetahui untuk memberi tahukan kepada orang lain apa yang dia ketahui. termasuk mengumumkan Bakteri tersebut yang bisa saja membunuh atau mengakibatkan kerusakan otak generasi penerus bangsa.

    kalau saja apa yang sudah diteliti oleh para ilmuwan IPB itu benar apa yang harus ditakutkan dengan tuntutan para kapitalis. segala sesuatu tentang kebenaran itu harus diungkapkan. apapun resikonya kebenaran adalah sebuah kebenaran. kalau IPB sebagai salah satu institusi terbaik di negeri ini yang mencetak para ilmuwan takut untuk mengungkapkan kebenaran, bisa kita bayang kan pantas saja negeri ini tidak pernah keluar dari masalah hanya karena takut mengungkapkan kebenaran.

    dari tulisan diatas jadi saya simpulkan dan saya nilai bahwa IPB sebenarnya mengungkapkan yang sebaliknya yaitu IPB telah menjadi anjing penjaga modal para kapitalis dan telah melanggar etika ilmiah itu sendiri.

    sebenarnya IPB takut kalau susu-susu yang tercemar tersebut diumumkan mengakibatkan susu tersebut tidak laku. dan IPB takut dengan mengumumkan tersebut mengakibatkan susu produk lokal akan menjadi lebih berharga.

    saya ucapkan teruslah jaya IPB teruslah bodohi rakyatmu.
    hianati ibu dan anak-anakmu. juallah negeri demi donasi untuk keperluan para peneliti….

    ibu pertiwi mu menangis disini. karena kau tak lagi perduli.

    satu pesan seorang ibu pada anaknya yang ingin sekolah “walaupun aku miskin dan tak mampu membiayai studi mu anakku, janganlah sekali-kali kau jual dirimu hanya untuk biaya studimu”

  24. kl boleh tanya, apa keuntungan kapitalis dengan menjatuhkan IPB?

  25. Sepakat dengan Bung Hendriko Manaf !
    Penelitian dilakukan IPB 2003-2006. Selama 3 tahun itu IPB sudah tahu bahwa ada bahaya yang mengancam jiwa bayi-bayi di negeri ini. Apakah etika ilmiah melarang kalian untuk menyelamatkan bayi-bayi ini dari ancaman kematian ?
    Lalu, dengan entengnya kalian bilang, penelian tahun berikutnya bakterinya sudah nggak ada kok…
    Kalau khawatir masuk dalam jebakan, kenapa hasil penelitian itu kalian umumkan ? Sembunyikan saja sekalian. Jangan cuma sembunyikan merek-mereknya. Biar sekalian orang tahu bahwa ilmuwan itu sekelompok orang egois yang beronani dengan kecerdasannya dan tak peduli nasib hidup mati orang lain.
    Entah berapa juta bayi teracuni bakteri berbahaya itu selama 2003-2006 dan kalian, orang-orang cerdas yang tahu hal itu, membiarkannya bencana itu terjadi ! Padahal, kalian mampu mencegahnya….
    Maafkan kalau saya maki IPB dan sang peneliti hebat itu: bangsat !

  26. suatu posisi dilema bagi IPB. namun jika merunut pada kode etik penelitianIPB tidak bisa mengumumkan hasil penelitian itu. sehingga disini dibutuhkan suatu ketegasan pemerintah untuk menengahi permasalahan ini. karena jika pemerintah tidak tegas maka akan banyak juga pihak yang merasa dirugikan.

  27. whan :
    suatu posisi dilema bagi IPB. namun jika merunut pada kode etik penelitianIPB tidak bisa mengumumkan hasil penelitian itu. sehingga disini dibutuhkan suatu ketegasan pemerintah untuk menengahi permasalahan ini. karena jika pemerintah tidak tegas maka akan banyak juga pihak yang merasa dirugikan.

    IPB sudah terlanjur basah. Kalau sejak awal tidak umumkan hasil penelitian tahun 2003-2006 tidak akan ada masalah (kecuali tanggungjawab moral utk selamatkan jiwa bayi-bayi itu).
    Karena sudah terlanjur umumkan, gentle lah… umumkan sekalian merek-mereknya. Jangan banci dengan berlindung di balik “etika ilmiah”

  28. Setelah saya lihat di komentar2nya, ternyata masih banyak orang yang ingin memprovokasi masalah ini.

    Dengan ipb mengumumkan hasil riset dan mempresentasikannya di depan para stakeholder, produsen susu pun akhirnya memperbaiki produk mereka, dibuktikan dengan tidak ditemukannya bakteri di susu2 formula di tahun 2008.

    LANTAS, BUKANKAH ITU SEBUAH KEMAJUAN KE ARAH YG LEBIH BAIK? BUKANKAH ITU ARTINYA IPB PUN TELAH MEMBERIKAN SUMBANGSIHNYA KEPADA MASYARAKAT?!

    Tolong dipikir lebih dahulu sebelum men-judge, jangan termakan oleh provokasi media.

    Dan pemerintah telah menyatakan bahwa susu formula sekarang telah terbebas dari Sakazaki.
    Sekarang yg terpenting para orang tua harus lebih hati2 dalam menyiapkan susu formula untuk bayinya, pemerintah telah memberitahukan cara menyeduh susu yg benar, menggunakan air dengan suhu 70-80 celcius.

    Tolong, sekali lagi, jangan mudah terprovokasi oleh media. Jangan menelan mentah2 apa yang kita lihat di tv, sebelum benar2 tau duduk persoalannya.

  29. @Ugi: sebelum memaki sebaiknya tahu dulu duduk permasalahannya seperti apa, IPB meneliti susu formula, dan karena penelitian tersebut dibiayai oleh Dikti, maka peneliti mempresentasikannya secara ilmiah ke dikti.. (Forum ilmiah, tidak untuk disebarkan ke media), namun entah mengapa berita tersebut tersebar ke media, dan mengejar2 peneliti.. Peneliti tidak pernah mempublish hasilnya kepada media secara umum, beliau hanya melayani wartawan saja, perihal penelitiannya yg terlanjur bocor ke media tersebut.. Thx

  30. pryanto :
    @Ugi: sebelum memaki sebaiknya tahu dulu duduk permasalahannya seperti apa, IPB meneliti susu formula, dan karena penelitian tersebut dibiayai oleh Dikti, maka peneliti mempresentasikannya secara ilmiah ke dikti.. (Forum ilmiah, tidak untuk disebarkan ke media), namun entah mengapa berita tersebut tersebar ke media, dan mengejar2 peneliti.. Peneliti tidak pernah mempublish hasilnya kepada media secara umum, beliau hanya melayani wartawan saja, perihal penelitiannya yg terlanjur bocor ke media tersebut.. Thx

    Yg saya maki adalah sikap egois peneliti… Ketika menemukan dari hasil penelitiannya bahwa ada bahaya mengancam jiwa manusia (dan ini berlangsung 3 tahun bung…bukan sebentar), hal itu cukup dipresentasikan di dikti saja ?
    Thanks to media yang membantu membuka rahasia yang disembunyikan oleh IPB-Dikti, demi menjaga muka industri.
    Betul kata Hendriko Manaf, IPB telah berlaku sebagai anjing penjaga modal kapitalis…
    Saya akan terus memaki siapapun yang membiarkan keselamatan jiwa manusia terancam

  31. Menurut sy tdk perlu trlalu khawatir, bakteri itu (kalau ada) akan mati dengan air 70-80 derajat C, titik. Ga usah ribet mikirin yg lain2

  32. wow.. ruwet amir ya.. aduch kasian anakku cayang yang minum cucu formula….

  33. Dipresentasikan di dikti, kemudian hasil diberikan ke bppom selaku instansi yg berkepentingan dalam hal keamanan pangan.. Kemudian bppom melakukan penelitian serupa, serta mengkomunikasikan dengan produsen susu untuk meningkatkan higiene dan sanitasi dalam proses produksi susu formula.. Kewajiban IPB hanyalah melaporkan ke instansi pemerintah yaitu BPPOM dan Depkes… Demikian sepengetahuan saya.. Thx

    • pryanto :
      Dipresentasikan di dikti, kemudian hasil diberikan ke bppom selaku instansi yg berkepentingan dalam hal keamanan pangan.. Kemudian bppom melakukan penelitian serupa, serta mengkomunikasikan dengan produsen susu untuk meningkatkan higiene dan sanitasi dalam proses produksi susu formula.. Kewajiban IPB hanyalah melaporkan ke instansi pemerintah yaitu BPPOM dan Depkes… Demikian sepengetahuan saya.. Thx

      Kemenkes dan Balai POM tdk pernah terima laporan dari IPB tuh…:). Nih, Bu Menteri yg bilang:

      http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/17/203780/92/14/Kemenkes-dan-BPOM-Tolak-Disamakan-dengan-IPB

      So, tinggal IPB yang WAJIB menaati putusan hukum putusan kasasi Mahkamah Agung RI Nomor : 2975 K/Pdt/2009 tertanggal 26 April 2010.

      Pilih taat pada hukum atau “etika ilmiah” ? BTW, saya yg bodo ini mohon pencerahan, mana yang perlu diikuti antara keduanya… putusan kasasi MA atau “etika ilmiah” (yg sebetulnya jg layak diperdebatkan kembali)…?
      Mas admin, judulnya ganti deh… alasannya sdh tidak kuat lagi soalnya…:)

  34. gini deh ya, kalo misalnya sekarang diumumin merk2nya, trus produk susu tersebut dihindari? ya percuma dong ya.. produsen susunya kan udah ditegor ma BPPOM atas laporan IPB.
    disini siapa yg masih nyeduh susu pake air dingin?
    siapa yang ngasih susu bubuk tanpa diseduh ke anaknya?
    sayang sama anaknya kan??
    pasti udah pada tau kan kalo biar cepet larut ituuu, diseduhnya harus pake air panas. kalo bahasa yang lebih ilmiah lagi biar mempercepat laju reaksi. nah, si Enterobacter sakazaki yg heboh di tahun 2008, dan sekarang namanya jadi Cronobacter sakazaki ini kan mati di suhu panas, terus kenapa harus repot2 mikirin merknya. prosedur sterilisasi dasar aja udah bisa ngatasinnya.
    lagipula kalo gak pake susu2 yang DULU bermasalah itu, tapi cara penyimpanan dan penyajiannya masih salah juga percuma kan? masih banyak bakteri lainnya. masih ada Shigella yg bisa mencemari lewat partikel debu, ada Escherichia coli yg berasal dari air yg tercemar, juga salmonella karena sanitasi yang buruk. nah kan bakteri2 ini gak ngaruh dari merk apa kan? semuanya tergantung dari konsumennya.
    sayang anaknya kan?? 🙂

  35. devi ayu :
    gini deh ya, kalo misalnya sekarang diumumin merk2nya, trus produk susu tersebut dihindari? ya percuma dong ya.. produsen susunya kan udah ditegor ma BPPOM atas laporan IPB.
    disini siapa yg masih nyeduh susu pake air dingin?
    siapa yang ngasih susu bubuk tanpa diseduh ke anaknya?
    sayang sama anaknya kan??
    pasti udah pada tau kan kalo biar cepet larut ituuu, diseduhnya harus pake air panas. kalo bahasa yang lebih ilmiah lagi biar mempercepat laju reaksi. nah, si Enterobacter sakazaki yg heboh di tahun 2008, dan sekarang namanya jadi Cronobacter sakazaki ini kan mati di suhu panas, terus kenapa harus repot2 mikirin merknya. prosedur sterilisasi dasar aja udah bisa ngatasinnya.
    lagipula kalo gak pake susu2 yang DULU bermasalah itu, tapi cara penyimpanan dan penyajiannya masih salah juga percuma kan? masih banyak bakteri lainnya. masih ada Shigella yg bisa mencemari lewat partikel debu, ada Escherichia coli yg berasal dari air yg tercemar, juga salmonella karena sanitasi yang buruk. nah kan bakteri2 ini gak ngaruh dari merk apa kan? semuanya tergantung dari konsumennya.
    sayang anaknya kan??

    sederhana aja mbak… ayo deh IPB kasih contoh kpd kami2 yg bodo ini untuk TAAT HUKUM ! Negeri ini sdh terlalu miskin keteladanan. Kasih contoh kepada bangsa ini bahwa IPB mampu menaati putusan kasasi MA, apapun resikonya. Titik.
    BTW, kalau sakazakii dan bakteri2 lain itu tidak berbahaya, buat apa repot2 IPB meneliti dan laporkan hasilnya ke Dikti ? Mendingan dana penelitiannya dipakai untuk penyuluhan cara menyeduh susu yang baik dan benar…. 😀

  36. mas admin, komen saya atas komen Mas Priyanto sebelum komen Mbak Devi Ayu, blm dimoderasi tuh… Jadi putus diskusinya. Ada fakta menarik yang saya ungkapkan di situ

  37. Ugi :

    devi ayu :
    gini deh ya, kalo misalnya sekarang diumumin merk2nya, trus produk susu tersebut dihindari? ya percuma dong ya.. produsen susunya kan udah ditegor ma BPPOM atas laporan IPB.
    disini siapa yg masih nyeduh susu pake air dingin?
    siapa yang ngasih susu bubuk tanpa diseduh ke anaknya?
    sayang sama anaknya kan??
    pasti udah pada tau kan kalo biar cepet larut ituuu, diseduhnya harus pake air panas. kalo bahasa yang lebih ilmiah lagi biar mempercepat laju reaksi. nah, si Enterobacter sakazaki yg heboh di tahun 2008, dan sekarang namanya jadi Cronobacter sakazaki ini kan mati di suhu panas, terus kenapa harus repot2 mikirin merknya. prosedur sterilisasi dasar aja udah bisa ngatasinnya.
    lagipula kalo gak pake susu2 yang DULU bermasalah itu, tapi cara penyimpanan dan penyajiannya masih salah juga percuma kan? masih banyak bakteri lainnya. masih ada Shigella yg bisa mencemari lewat partikel debu, ada Escherichia coli yg berasal dari air yg tercemar, juga salmonella karena sanitasi yang buruk. nah kan bakteri2 ini gak ngaruh dari merk apa kan? semuanya tergantung dari konsumennya.
    sayang anaknya kan??

    sederhana aja mbak… ayo deh IPB kasih contoh kpd kami2 yg bodo ini untuk TAAT HUKUM ! Negeri ini sdh terlalu miskin keteladanan. Kasih contoh kepada bangsa ini bahwa IPB mampu menaati putusan kasasi MA, apapun resikonya. Titik.
    BTW, kalau sakazakii dan bakteri2 lain itu tidak berbahaya, buat apa repot2 IPB meneliti dan laporkan hasilnya ke Dikti ? Mendingan dana penelitiannya dipakai untuk penyuluhan cara menyeduh susu yang baik dan benar….

    Ugi :

    devi ayu :
    gini deh ya, kalo misalnya sekarang diumumin merk2nya, trus produk susu tersebut dihindari? ya percuma dong ya.. produsen susunya kan udah ditegor ma BPPOM atas laporan IPB.
    disini siapa yg masih nyeduh susu pake air dingin?
    siapa yang ngasih susu bubuk tanpa diseduh ke anaknya?
    sayang sama anaknya kan??
    pasti udah pada tau kan kalo biar cepet larut ituuu, diseduhnya harus pake air panas. kalo bahasa yang lebih ilmiah lagi biar mempercepat laju reaksi. nah, si Enterobacter sakazaki yg heboh di tahun 2008, dan sekarang namanya jadi Cronobacter sakazaki ini kan mati di suhu panas, terus kenapa harus repot2 mikirin merknya. prosedur sterilisasi dasar aja udah bisa ngatasinnya.
    lagipula kalo gak pake susu2 yang DULU bermasalah itu, tapi cara penyimpanan dan penyajiannya masih salah juga percuma kan? masih banyak bakteri lainnya. masih ada Shigella yg bisa mencemari lewat partikel debu, ada Escherichia coli yg berasal dari air yg tercemar, juga salmonella karena sanitasi yang buruk. nah kan bakteri2 ini gak ngaruh dari merk apa kan? semuanya tergantung dari konsumennya.
    sayang anaknya kan??

    sederhana aja mbak… ayo deh IPB kasih contoh kpd kami2 yg bodo ini untuk TAAT HUKUM ! Negeri ini sdh terlalu miskin keteladanan. Kasih contoh kepada bangsa ini bahwa IPB mampu menaati putusan kasasi MA, apapun resikonya. Titik.
    BTW, kalau sakazakii dan bakteri2 lain itu tidak berbahaya, buat apa repot2 IPB meneliti dan laporkan hasilnya ke Dikti ? Mendingan dana penelitiannya dipakai untuk penyuluhan cara menyeduh susu yang baik dan benar….

    okey gini, kalo udah tau merk2nya mau apa?
    kalo kita gk tau bahaya apa yang mengancam terus sosialisasi tentang cara menyeduh susu yang baik dan benar akan muncul pertanyaan
    “buat apa repot2 nyeduh susu pake aer panas segala, toh pake aer biasa aja gak kenapa2?”

  38. Pertanyaan saya sederhana. IPB, tujuannya membuat penelitiannya itu untuk apa? Saya yakin IPB mempunyai tujuan yang mulia salah satunya untuk kepentingan orang banyak. Tapi setelah memperoleh hasilnya yang jelas2 menyangkut kesehatan orang banyak (khususnya balita yg mengkonsumsi susu formula tsb) dengan sikapnya sekarang SEOLAH TIDAK BERPIHAK KEPADA KEPENTINGAN ORANG BANYAK.
    Oke, kalau masalah takut dengan sebutan singa-singa pengusaha susu formula tersebut, kan sudah jelas2 ada putusan dari MA, lalu kenapa tidak meminta perlindungan aja bila perlu jaminan bahwa jika IPB mengumumkan, maka tidak akan ada pihak manapun yg menuntut.
    Saran saya kalo ingin berbuat sesuatu LURUSKAN dulu NIATnya, jangan hanya sekedar cari sensasi atau cari muka saja lah.

  39. Hmm,.,,,, ikut menyimak dulu,,,

  40. mas admin, komen saya atas komen Mas Priyanto sebelum komen Mbak Devi Ayu, blm dimoderasi tuh… Jadi putus diskusinya. Ada fakta menarik yang saya ungkapkan di situ

    pryanto :
    @Ugi: sebelum memaki sebaiknya tahu dulu duduk permasalahannya seperti apa, IPB meneliti susu formula, dan karena penelitian tersebut dibiayai oleh Dikti, maka peneliti mempresentasikannya secara ilmiah ke dikti.. (Forum ilmiah, tidak untuk disebarkan ke media), namun entah mengapa berita tersebut tersebar ke media, dan mengejar2 peneliti.. Peneliti tidak pernah mempublish hasilnya kepada media secara umum, beliau hanya melayani wartawan saja, perihal penelitiannya yg terlanjur bocor ke media tersebut.. Thx

    #

    *

    Kemenkes dan Balai POM tdk pernah terima laporan dari IPB tuh…:). Nih, Bu Menteri yg bilang:

    http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/17/203780/92/14/Kemenkes-dan-BPOM-Tolak-Disamakan-dengan-IPB

    So, tinggal IPB yang WAJIB menaati putusan hukum putusan kasasi Mahkamah Agung RI Nomor : 2975 K/Pdt/2009 tertanggal 26 April 2010.

    Pilih taat pada hukum atau “etika ilmiah” ? BTW, saya yg bodo ini mohon pencerahan, mana yang perlu diikuti antara keduanya… putusan kasasi MA atau “etika ilmiah” (yg sebetulnya jg layak diperdebatkan kembali)…?
    Mas admin, judulnya ganti deh… alasannya sdh tidak kuat lagi soalnya…:)

  41. pryanto :
    @Ugi: sebelum memaki sebaiknya tahu dulu duduk permasalahannya seperti apa, IPB meneliti susu formula, dan karena penelitian tersebut dibiayai oleh Dikti, maka peneliti mempresentasikannya secara ilmiah ke dikti.. (Forum ilmiah, tidak untuk disebarkan ke media), namun entah mengapa berita tersebut tersebar ke media, dan mengejar2 peneliti.. Peneliti tidak pernah mempublish hasilnya kepada media secara umum, beliau hanya melayani wartawan saja, perihal penelitiannya yg terlanjur bocor ke media tersebut.. Thx

    #

    *

    Kemenkes dan Balai POM tdk pernah terima laporan dari IPB tuh…:). Nih, Bu Menteri yg bilang:

    http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/17/203780/92/14/Kemenkes-dan-BPOM-Tolak-Disamakan-dengan-IPB

    So, tinggal IPB yang WAJIB menaati putusan hukum putusan kasasi Mahkamah Agung RI Nomor : 2975 K/Pdt/2009 tertanggal 26 April 2010.

    Pilih taat pada hukum atau “etika ilmiah” ? BTW, saya yg bodo ini mohon pencerahan, mana yang perlu diikuti antara keduanya… putusan kasasi MA atau “etika ilmiah” (yg sebetulnya jg layak diperdebatkan kembali)…?
    Mas admin, judulnya ganti deh… alasannya sdh tidak kuat lagi soalnya…:)

    #

  42. kok aneh ya ??? komen saya skrg kok jadi harus dimoderasi dulu? nggak fair nih

  43. coba lagi deh, di-quote manual, kalau masih tdk di-approve, saya off dari diskusi ini:

    ini kutipan Mas pryanto
    Februari 19th, 2011

    Dipresentasikan di dikti, kemudian hasil diberikan ke bppom selaku instansi yg berkepentingan dalam hal keamanan pangan.. Kemudian bppom melakukan penelitian serupa, serta mengkomunikasikan dengan produsen susu untuk meningkatkan higiene dan sanitasi dalam proses produksi susu formula.. Kewajiban IPB hanyalah melaporkan ke instansi pemerintah yaitu BPPOM dan Depkes… Demikian sepengetahuan saya.. Thx

    ini komen saya:

    Kemenkes dan Balai POM tdk pernah terima laporan dari IPB tuh…:). Nih, Bu Menteri yg bilang:

    http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/17/203780/92/14/Kemenkes-dan-BPOM-Tolak-Disamakan-dengan-IPB

    So, tinggal IPB yang WAJIB menaati putusan hukum putusan kasasi Mahkamah Agung RI Nomor : 2975 K/Pdt/2009 tertanggal 26 April 2010.

    Pilih taat pada hukum atau “etika ilmiah” ? BTW, saya yg bodo ini mohon pencerahan, mana yang perlu diikuti antara keduanya… putusan kasasi MA atau “etika ilmiah” (yg sebetulnya jg layak diperdebatkan kembali)…?
    Mas admin, judulnya ganti deh… alasannya sdh tidak kuat lagi soalnya…:)

  44. Ugi :
    coba lagi deh, di-quote manual, kalau masih tdk di-approve, saya off dari diskusi ini:
    ini kutipan Mas pryanto
    Februari 19th, 2011
    Dipresentasikan di dikti, kemudian hasil diberikan ke bppom selaku instansi yg berkepentingan dalam hal keamanan pangan.. Kemudian bppom melakukan penelitian serupa, serta mengkomunikasikan dengan produsen susu untuk meningkatkan higiene dan sanitasi dalam proses produksi susu formula.. Kewajiban IPB hanyalah melaporkan ke instansi pemerintah yaitu BPPOM dan Depkes… Demikian sepengetahuan saya.. Thx
    ini komen saya:
    Kemenkes dan Balai POM tdk pernah terima laporan dari IPB tuh…:). Nih, Bu Menteri yg bilang:
    http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/17/203780/92/14/Kemenkes-dan-BPOM-Tolak-Disamakan-dengan-IPB
    So, tinggal IPB yang WAJIB menaati putusan hukum putusan kasasi Mahkamah Agung RI Nomor : 2975 K/Pdt/2009 tertanggal 26 April 2010.
    Pilih taat pada hukum atau “etika ilmiah” ? BTW, saya yg bodo ini mohon pencerahan, mana yang perlu diikuti antara keduanya… putusan kasasi MA atau “etika ilmiah” (yg sebetulnya jg layak diperdebatkan kembali)…?
    Mas admin, judulnya ganti deh… alasannya sdh tidak kuat lagi soalnya…:)

    inilah yg terjadi ketika penelitian ilmiah dibawa ke hukum..
    baca ini juga deh
    http://metrotvnews.com/read/tajuk/2011/02/17/675/Heboh-Susu-Formula-Berbakteri/tajuk

    tidak berkewajiban tidak sama dengan tidak melaporkan

  45. Menurut saya, pertama, penelitian drh. Sri Estuningsih awalnya bukan untuk mencari E. Sakazakii, tetapi dalam pengetesan, ditemukan sampel yang tercemar bakteri tersebut. Saat itu kemudian dicobakan pada mencit untuk melihat efeknya. pihak IPB sudah menindaklanjuti hasil penelitiannya dengan melaporkan penelitian tersebut ke dikti dan BPOM, lalu melakukan penyuluhan agar membetulkan sistem dari produsen2 tersebut. Hasil nyatanya, penelitian ulang tahun 2009 dan 2010 menyatakan bahwa hasil pengetesan susu-susu tersebut negatif. Itu adalah bukti IPB memperhatikan isu ini.

    Kita kan memiliki kode etik penelitian, dan caranya bukan menyebar-nyebarkan list itu ke media lalu membuat masyarakat resah.

    Peran media saat ini sudah sangat memprihatinkan, pers bisa seenaknya saja memasukkan opini mereka dalam artikel yang terkesan “Fakta”.

    Hal ini diperburuk dengan masyarakat Indonesia yang belum siap dalam sistem kebebasan pers seperti ini, dengan tingkat edukasi yang masih rendah, masyarakat menelan bulat-bulat isi media dan mudah dipengaruhi.

  46. @windam,
    menurut saya, fokus deh ke putusan kasasi MA. Fokus mendorong IPB memberi teladan kepada masyarakat sebagai institusi bermartabat yang taat hukum.
    Putusan kasasi MA memerintahkan Depkes, BPOM dan IPB menginformasikan soal merek susu yg tercemar di tahun 2003-2006 itu. Depkes dan BPOM bilang tidak punya datanya karena IPB tidak berikan. So, tinggal IPB yang punya kewajiban menaati putusan kasasi MA itu.
    http://www.mediaindonesia.com/read/2011/02/17/203780/92/14/Kemenkes-dan-BPOM-Tolak-Disamakan-dengan-IPB

    Please, beri kami keteladanan ketaatan pada hukum… pleeease… negeri ini minim teladan….
    Pleeease… saya akan cabut makian saya dan saya ganti dengan pujian setinggi langit kalau IPB mau menaati putusan kasasi MA ini….

  47. saya harap dengan adanya kasus ini tidak membuat para peneliti kapok meneliti
    maju terus IPB

  48. bagi saya, ketika publik menuntut publikasi hasil penelitian itu maka sudah selayaknya pula publik juga harus ikut membantu dan mendukung IPB dari kemungkinan adanya tekanan yang mungkin diberikan perusahaan industri susu
    artinya, masyarakat harus mendukung dan membela IPB bila nantinya akan membuka tabir kecacatan produksi dari berbagai industri kapitalis tersebut

  49. Sebenarny yang lebih penting itu cara mengatasi bakteri sakazaki itu bagaimana, bukan merk susuny apa. Karena bakteri bisa d temukan disekeliling kita.
    Saya heran sama mereka yg memaksa list merk susu itu dibuka, untuk apa? Kalau udah tau merk tsb mau dihindari bgtu? Pdhl bpom sdh menjamin susu yg beredar saat ini sudah bebas sakazaki.

    Media yg tlalu mengekspos berlebih thadap hasil penelitian ini tanpa inpo b’imbang, dan masyarakat kita juga yg maen nelen bulet2 berita yg ada tanpa d cerna dulu masalahny.

    Buat saya stop polemik ini. Maju terus IPB.

  50. @ugi.
    Hal yg mengecewakan adalah bahwa negara ini masih belum mempunyai ketentuan perundang-undangan yang lengkap. Hal ini membuat hak peneliti tidak terlalu disupport. Tenang saja, pihak ipb akan mencari jalan keluar dimana ipb taat hukum.

  51. windam :
    @ugi.
    Hal yg mengecewakan adalah bahwa negara ini masih belum mempunyai ketentuan perundang-undangan yang lengkap. Hal ini membuat hak peneliti tidak terlalu disupport. Tenang saja, pihak ipb akan mencari jalan keluar dimana ipb taat hukum.

    Doakan saja dan terus dorong para petinggi hukum utk lengkapi ketentuan perundangan yang mensupport hak-hak peneliti. Tetapi yang sudah jadi fakta hukum saat ini adalah putusan kasasi MA yang wajib ditaati IPB. Jangan cari alasan lagi untuk menolak taat pada hukum. IPB tidak akan jatuh martabatnya dengan menaati hukum. Bahkan, IPB justru akan jadi teladan bagi bangsa agar benar-benar memaknai istilah yang sering kita banggakan: “negara hukum”….
    Sekadar intermezzo, Megawati menolak panggilan KPK dalam kasus travel cek Miranda Gultom. Saya khawatir nanti ada yang komen gini, “Ooo pantes dia gak taat hukum, wong dia pernah kuliah di IPB kok….”
    Nggak nyambung ya ? Namanya jg inntermezzo…. 🙂
    Peace…

  52. kan sudah d jelaskan, kalo IPB memberitahu, maka mereka akan mendapat 2 jebakan, lagi pula memang keputusan ipb tepat memberitahu ke BPOM sehingga skrg dapat d atasi daripada hany percaya pada pers yg kadang2 lebay sehingga masyarakat resah,
    skrg bakteri i2 sdh lenyap dari susu formula karena ipb, kok ga ada rasa terima kasih sh?

  53. Peneliti vs media vs hukum? Seperti cinta segitiga saja. Sayangnya pihak ke empatlah (baca: rakyat awam) yang kena imbasnya.
    Sebagai mahasiswi saya memilih belajar dengan baik saja. Biar masalah ini diserahkan pada pihak yang memang ahli di bidangnya 🙂
    maju terus IPB. Provokator gunanya hanya memperindah kasus saja 🙂

  54. Terlalu tendensius, cobalah berpikir secara terbuka dan tidak menghakimi.

    Dari penelitian IPB yang pertama, terbukti bahwa ada indikasi adanya bakteri pada susu. Tetapi kalau dilihat dari sampel yang diambil maka tentunya tidak dapat digunakan sebagai keputusan yang menyatakan bahwa susu buatan yang ada dipastikan terdapat bakteri yang dimaksud. Karena belum ada kepastian tersebut maka cukup bijaksana jika merk susu memang tidak diumumkan. Saya dalam hal ini setuju.

    Tetapi dengan kondisi tersebut adanya keraguan akan kualitas susu buatan yang tercemar masih ada. Ini yang membuat resah. Ini yang harus diselesaikan. Caranya bagaimana, ya perlu dibuat penelitian lagi dengan sampel yang lebih representatatif dan didukung oleh semua pihak. Buat kesepakatan bersama, misalnya acuan apa yang digunakan untuk mengevaluasi. Jika sudah disetujui maka dilakukan penelitian. Pemerintah dalam hal ini masuk, melakukan juga pengawasan bisa juga kerja sama dengan perguruan tinggi lain, biar netral. Hasilnya diumumkan secara terbuka. Sehingga tidak terjadi kesimpang-siuran lagi, sehingga ada kepastian.

    Ingat yang namannya penelitian itu juga punya keterbatasan, hanya benar untuk masalah-masalah akademik. Jika ingin dijadikan suatu keputusan yang general maka tentu perlu persiapan yang benar. Jangan ada hasil penelitian langsung digeneralisasi. Apalagi jika digabung-gabung dengan teknik konspirasi. Bagaimana negara bisa maju kalau begitu.

  55. @Pak Wir, ini bukan menghakimi lagi. Sebab vonisnya memang sudah jatuh. Jadi sebaiknya tak lagi perdebatkan soal penelitiannya. Sebab, perdebatan soal itu sudah selesai di semua jenjang pengadilan.
    Yang harus dijadikan perhatian sekarang adalah IPB mau TAAT HUKUM dengan mentaati putusan kasasi MA itu atau tidak ?
    Perintah pengadilan sederhana kok: umumkan merek yg diteliti tahun 2003-2006 itu. Sudah, jangan perdebatkan lagi soal “setelah diumumkan terus apa? nyatanya penelitian 2008 menyatakan tak ada bakteri..” Yang penting, TAATI amar putusan MA.
    Bagaimana negara mau maju kalau institusi pendidikan tingginya membangkang terhadap putusan pengadilan tertinggi ? Bisa-bisa semua orang akan meneladani sikap IPB dengan mencari segala dalih untuk membangkang putusan hukum…. 😦

  56. @ugi,
    maaf, IPB belum mengumumkan karena keputusan MA masih dikatakan ‘diduga’ bersalah,
    anda adalah KORBAN pers dan MA yang anda BANGGA2kan,
    hahaha,
    coba liat berita terbaru dong!
    JANGAN SUKA BERPIKIRAN NEGATIF,

  57. @gege, anda tau perkembangan berita ttg hal ini dari siapa kalau bukan dari pers ? Ada org dari MA dan Rektorat yg melapor ke anda ? hehe…. Jangan suka berpikir negatif terhadap pers dan MA yah, brother (or sister?)
    Coba minta deh salinan putusan MA ke kampus. Baca baik2 amar putusannya. Kata kuncinya satu: TAAT HUKUM

  58. Kalau TAKUT membeberkan merk KNAPA DIUMUMKAN ADA SUSU FORMULA BER-BACTERI ? Apa ini kode etik ? Membuat resah .

  59. Berikut adalah paparan Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto, Msc terkait susu formula yang disampaikan pada Lokakarya Kemahasiswaan IPB di Auditorium FPIK, Ahad (20/2) siang tadi.

    Pada awalnya, penelitian ini dilakukan oleh Dr. Sri Estuningsih selaku ahli Mikrobiologi Kedokteran Hewan. Beliau mendapat dana penelitian yang cukup besar, termasuk salah satunya adalah Dana Hibah Bersaing. Penelitian yang dilakukan ini adalah untuk melakukan isolasi terhadap bakteriEnterobacter sakazakii. Kalau dalam bahasa gaulnya “berburu bakteri”. Bakteri ini sebenarnya sudah ditemukan lama sejak tahun 1958, namun belum diketahui tingkat keganasannya. Susu berpotensi untuk menjadi habitat E. sakazakii karena mengandung protein yang tinggi. Dr. Estu kemudian mencoba melakukan penelitian lebih terhadap bakteri ini, sampai dilakukan di Jerman karena tidak adanya fasilitas di Indonesia. Dari hasil penelitian tersebut, diketahui 5 dari 22 produk susu yang diteliti ternyata mengandung bakteri tersebut. Bakteri tersebut kemudian diujicobakan pada seekor mencit dalam dosis yang cukup tinggi, ternyata bakteri ini menyerang jaringan otak.

    Setelah diketahui dampak dari bakteri ini, Dr. Estu segera mengumumkan pada pihak-pihak terkait adanya bakteri E. sakazakii dan akibatnya. Beliau sudah banyak mem-publish dalam pertemuan atau seminar ilmiah. Namun ada seorang menteri pada waktu itu (sekitar tahun 2008) yang menganggap remeh hasil temuan itu. Beliau mengatakan itu karena penelitian ini dilakukan oleh seorang dokter hewan. Depkes dan BPOM pun tidak dapat melakukan tindakan, karena hingga tahun 2008, belum ada peraturan terkait kontaminasi bakteri E. sakazakii ini.

    Kemudian dilakukan seminar internasional FAO yang mengundang seluruh ahli dari berbagai belahan dunia, dan Dr. Estu mewakili Asia dalam seminar tersebut. Akhirnya ditetapkan dalam keamanan standar pangan internasional, bahwa susu harus terbebas dari kontaminasi E. sakazakii. Dengan dikeluarkannya ketetepan ini, pada tahun 2008 dilakukan teguran bagi seluruh produsen susu untuk memperbaiki kinerja produksinya sehingga seluruh produk susu wajib terbebas dari kontaminan bakteriE. sakazakii. Dan pada tahun yang sama pula, BPOM melakukan uji pada 96 merk susu dan hasil seluruh pengujian adalah NEGATIF alias tidak lagi ditemukan ada kontaminasi E. sakazakii pada produk susu.

    Pada waktu dekat ini, terdapat seseorang yang bernama David L. Tobing yang memiliki 2 orang anak, menuntut agar kelima produk yang diindikasikan tercemar bakteri E. sakazakii berdasarkan penelitian Dr. Estu pada tahun 2006 agar dipublikasikan. Awalnya David menuntut atas nama masyarakat Indonesia, lalu berubah kemudian dia menuntut atas nama kedua anaknya karena anak-anaknya mengonsumsi susu. Padahal hingga saat ini kedua anaknya baik-baik saja (Alhamdulillah). Adanya penuntutan ini kemudian diliput oleh media. Media menyatakan bahwa apabila ini tidak diumumkan maka akan meresahkan warga. Distorsi media inilah yang menjadi salah satu faktor dalam mencuatnya kasus ini, sehingga banyak masyarakat yang hanya mengetahui kasus ini dari segi kepentingan publik semata, tidak melihat bagaimana seharusnya publikasi ilmiah itu diterima.

    Pak Rektor menambahkan tentang dosis pengujian pada mencit. Dosis yang diberikan pada mencit adalah dosis yang dilakukan terus menerus dalam takaran tinggi, hingga akhirnya diindikasikan menyerang jaringan otak. Sementara seandainya terdapat bakteri ini dalam susu formula yang kita konsumsi, dosis nya tidak akan setinggi dosis yang diberikan pada mencit. Beliau mengatakan, “Dan saya kira, bayi-bayi Indonesia bukanlah bayi tikus, sehingga masih aman.” Dan pada kenyataannya, hingga saat ini remaja seukuran kita yang dulu mengonsumsi susu atau masih pada saat ini, hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus penyakit akibat bakteri ini.
    IPB, selaku institusi pendidikan tinggi, sangat menjunjung tinggi kode etik penelitian. IPB tidak dipengaruhi oleh otoritas apapun, termasuk otoritas pemerintah maupun industri. “Kita patuh pada hukum, namun kita harus terus menjunjung tinggi etika penelitian. Saya tidak pernah ditekan oleh menteri. Dan kalaupun ada menteri yang menekan saya, saya akan bilang tidak. Terlalu murah jika IPB dibeli oleh pihak-pihak yang mementingkan kepentingan sendiri.”

    “IPB akan mengumumkan jika memang masyarakat sudah dalam kondisi yang berbahaya atau darurat, sekalipun itu melanggar aturan. Hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus akibat kontaminasi E. sakazakii, dan sejak tahun 2008 seluruh merk susu telah dinyatakan negatif oleh BPOM.”, beliau menambahkan.

    Dari paparan diatas, tentu sebaiknya kita kembali berkaca pada dunia pendidikan, yang memegang teguh Tri Dharma Pendidikan Tinggi. Seharusnya kita berterima kasih dan bersyukur dengan ditelitinya bakteri E. sakazakii oleh Dr. Estu yang akhirnya menjadi patokan dalam standar keamanan pangan internasional. Rektor mengimbau kepada pada masyarakat, untuk dapat memahami dan membaca dengan baik publikasi ilmiah, termasuk web ilmiah. Karena ini adalah penelitian yang bersifat ilmiah, maka bahasa yang digunakan juga ilmiah. Juga kepada media yang banyak melakukan distorsi terhadap sumber yang pasti. Rektor mengeluhkan dengan penyingkatan kalimat tulisan newstickeryang bertuliskan:

    –IPB tidak izin melakukan penelitian kepada Kementrian Kesehatan–

    padahal IPB selaku institusi memang berhak melakukan penelitian dan tidak memerlukan izin dari kementrian manapun. Tapi penulisan diatas cenderung menunjukkan penelitian yang dilakukan oleh IPB adalah ilegal. Pada awalnya ini merupakan publikasi ilmiah biasa, namun bergeser mulai dari persoalan hukum , kepentingan golongan, bahkan kepentingan politik semata. Ada beberapa pihak yang menggunakan kesempatan ini untuk menjadi terkenal dalam panggung perpolitikan semata.

    Harapan dari saya untuk pembaca sekalian, agar dapat mengambil hikmah dari kasus ini. Saat ini sepertinya sudah tidak ada bidang yang tidak ditunggangi kepentingan politik atau golongan. Dunia pendidikan yang seharusnya bersifat independen dan berpihak pada kepentingan bersama serta kemajuan bangsa akhirnya mulai diusik dan diganggu dengan berbagai tuduhan telah menjadi bagian dari kongkalikong golongan tertentu. Bahkan dunia olahraga yang notabene nya jauh dari panggung perpolitikan dan murni untuk mengukir prestasi dan kesehatan pun mengalami hal yang serupa. Saya kira dengan berbagai media yang memberitakan kasus ini dari berbagai sudut pandang, seluruh masyarakat dan khususnya kaum intelektual dan cendekia dapat melihat kasus ini lebih dalam dan mengambil hikmah yang ada. Sesuai dengan amanat Pak Rektor, jangan sampai kasus ini membuat kreativitas dan semangat para peneliti turun dan takut karena adanya kasus seperti ini. Semoga kasus ini dapat cepat selesai tanpa merugikan pihak manapun, serta semangat para putra/putri bangsa terus membara dalam membangun negara. Salam.

    NB: Mohon maaf jika terdapat kekurangan dan kesalahan dalam penulisan ini karena keterbatasan dokumentasi dan pengetahuan penulis. Amat terbuka bagi yang ingin memberikan kritik, saran serta koreksi.

  60. Informasi baguz yang menambah wawasan dan cara sudut pandang kita mas…
    bolehkah saya kutip artikel mas ini utk saya sebarkan ke kawan2 agar dapat menyikapi lebih bijak penelitian ini…??

  61. sumber’a drmn,bek?
    biar bisa lbih terpecaya lagi sbaik’a ditulis..

  62. pserta lokakarya kemaren nulis ini smua. Dihimbau untuk mempublikasikan.
    Intinya ttep sama tp cara pnyampaian yg berbeda

  63. IPB Harus kuat… kaum intelektual bukanlah motor politik.
    yang berhak mengumumkan pada masyarakat MERK susu adalah Dinas KEsehatan, dan BADAN POM BUKAN Lembaga Pendidikan

    Harusnya pemerintah Tahu itu…

    JANGAN NODAI AKADEMISI DENGAN POLITIK YANG CARUT MARUT

    IPB KU BERJAYALAH…..

  64. memang benar, IPB tidak seharusnya mengumumumkan merk susu formula tersebut. Harusnya BPOM dan DINKES yang berhak untuk mengumumkan hal ini.
    Jaya terus IPB ku..

  65. sebenarnya yang jadi perhatian saya cuma satu, kenapa masalah lama ini bisa muncul lagi..
    pasti pada inget dong kapan tepatnya kasus ini pertama muncul?
    tahun 2008 bro…
    BPOM dah lgsg nguji ulang dan hasilnya negatif, ya jelas aja, sampel yang dipake dah beda..
    sampel yang dipake buat penelitian IPb tahun 2003-2006, sampel dari BPOm tahun 2008, setelah kasus ini tiba2 muncul. jelas dong kalo sebenarnya dah ga ada lagi bakterinya, karena IPB sendiri dah ksh tau ke produsennya supaya ada perbaikan (dan terbukti kan)

  66. ugi, dengarlah kata2 d atas tuh,
    sy tdk pernah menyatakan pers bersalah dalam segala hal,
    kecuali dalam hal ini, justru perslah yg membuat resah masyarakat,

  67. @ugi, dengarlah kata2 d atas tuh,
    sy tdk pernah menyatakan pers bersalah dalam segala hal,
    kecuali dalam hal ini, justru perslah yg membuat resah masyarakat,

  68. oh, iy ugi maae yah yg kemarin, kata2ku hany bermaksud untuk membuat ugi memikirkan kata2 ugi lagi,
    beritany ada d detik.com kok,
    Pertanyaan MA emang mengatakan diduga bersalah,
    hohoho
    maaf yah!

  69. kenapa alasan kuat ini dibeberkan via blog? kenapa ga diterbitkan di tv atau dikatakan oleh pembicara dari IPB? kan aneh…
    lagipula kan ada yg namanya tridarma perguruan tinggi di poin pengabdian ke masyarakat. gimana dong tuh?
    atau sebenernya penelitiannya ga valid?
    atau hanya omong besar aja dari orang ipb?
    atau hanya pengen cari sensasi aja biar mahasiswa ipb makin banyak?

    kan ipb ga perlu takut, lha wong almamaternya presiden sekarang kok. kenapa harus takut.

    ah hanya cari sensasi kali ya… ga penting banget

  70. @ali
    bau bau nepotisme nih kalo mentang2 almamaternya presiden. Sekalipun kerabat presiden, bukan berarti dia kebal hukum..
    Pnelitiannya untuk saat ini sudah tdk valid lg. Itu kan penelitian yg duluuuu, cuman dbahas lg..

  71. Media it terkadang terlalu lebay, utk saat ini bhasa penyiaran bkan lah mengumumkan atau memberitakan tapi mendiferensiasi konteks sebenarnya sehingga bersifat merusak.

    IPB ku bertahanlah.

  72. Kare sudah ada up date tulisan ini tentang kode etik penelitian yang di maksud… maka komen ini di tutup.. silahkan memberikan komentar lagi setelah membaca

    https://ahnku.wordpress.com/2011/02/20/inilah-kode-etik-mengapa-ipb-tidak-perlu-umumkan-penelitian-susu-berbakteri-sakazaki/

    * Nasib peneliti kritis, akankah berakhir di sini???

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: