Tinggalkan komentar

Tulisan yang tak kunjung usai

Weleh-weleh… habis bongkar file di laptop nemu satu tulisan lama yang mencolok mata. Penasaran pas dibuka rupanya sebuah tulisan lama yang tak pernah usai. tulisannya kepotong. entah kemana dulunya arah dari tulisan ini, yang pasti sekarang saya sudah ga bisa membayangkan endingnya. tapi, daripada tulisannya mendem aja di hardisk, dan akan menghilang di makan virus, sebaiknya di share saja di laman ini. tulisan lama benar-benar lama sepertinya mungkin 2011 atau 2012. inilah tulisan yang tak kunjung selsesai itu.

 

belum ada judul

Semilir angin pagi membangunkanku dari dekapan malam yang kian melalaikan. Gemercik air yang jatuh dari ujung-ujung genteng rumah bernyanyi membentuk irama pagi. Membuka mata, membuang semua kelelahan yang kemarin menyelimuti. Tak ada yang lebih indah hari ini dari sekedar menghirup udara pagi untuk bekal kehidupan sehari ini. Rasa syukur terucap, pada Sang Maha Pencipta yang masih memberikan cinta-Nya pagi ini. Setets Air Wudhu jatuh membasahi sajadah. Terucap selintas doa untuk Ibunda yang saat ini jauh di sana. Air mata mengalir, merenung, “sudah apa yang aku berikan kepadmu, ibu?”

Remote TV tergeletak di atas tikar usang ruang tamu. Kuambil, kemudian kunyalakan TV kecil itu. Pagi ini kembali melihat kabar yang terjadi di Indonesia sehari kemarin. Sudah bisa ditebak isi beritanya. Kalau bukan berita tentang korupsi, pastilah kecelakaan lalulintas, kemudian tentang pembunuhan, dan paling bagus sedikit memberikan gambaran prestasi negeri ini. Hanya membuka sedikit harapan saja, di tengah berita konflik yang tak kian usai. Seolah merambat dari satu tempat ke tempat lain. Padahal sungguh tak ada hubungan antara konflik yang satu dengan yang lainnya.

Kukenakan kemeja usang itu, kemeja yang dibakali ibuku saat pergi ke perantaun. Kusemprotkan parfum di kedua lengan dan dada. Kulangkahkan kakiku untuk Indonesiaku. Hanya dalam waktu sekejap, aku tiba tepat di gerbang sebuah institusi besar. Lembaga pendidikan kebanggaanku. Kukeluarkan selemabar uang seribu seolah sebagi tiket masuk ke kampusku, karena ada seorang ibu-ibu renta yang menjajakan kotak kosongnya kehadapannku sembari meminta belas kasihanku. Melihatnya, teringat pada ibuku. Bukan sosoknya, melainkan pesan yang selalu ia titipkan kepadaku. Mengapa tidak memberi, padahal kita masih bisa memberi?

Kuteruskan langkah kakiku. Melewati kemegahan bangunan-bangunan itu yang tidak pernah kulihat dikampung halamanku. Taman-taman indah disisi jalan, bunga-bunga tertata rapi bermekaran dengan tetesan air yang masih membasahi kelopaknya. Berlawanan arah dari ku, melangkah seorang anak kecil yang membawa kotak putih berisi makanan yang ditempatkan di atas kepalanya. “ini bukan hari libur, tidakkah anak itu bersekolah” gumamku dalam hati. Sambil anak itu berlalu begitu saja. Seketika terlintas lagi dipikirannku, betapa beruntungnya aku. Sejak kecil sudah dimotivasi untuk menuntut ilmu oleh kedua orang tua ku.

Jejak-jejak kecilku meneruskan langkahnya hari ini….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: