1 Komentar

Jangan Motret Sebelum Mengetahui Dasar-Dasar Exposure

Tulisan ini adalah hasil dari terjemahan, mungkin masih ditemukan beberapa yang agak kaku. tapi semoga intinya masih bisa ditarik. Beberapa istilah fotografi yang lebih populer dalam bahasa aslinya sengaja tidak diterjemahkan untuk membiasakan penggunaan istilah aslinya dan agar pembaca tidak bingung. 

exposure1_2

Kita barangkali sering mendengar orang lain berkata, “Gambar ini properly exposed”, “Gambar ini overexposed” atau “Nah gambar ini underexposed” dan kadang-kadang “gambar ini Great exposure”. Tapi mungkin kita bertanya-tanya apa yang dimaksud dengan istilah tersebut? Dan yang terpenting adalah bagaimana Eksposur foto yang benar.

Atau barangkali kita tidak mempedulikan dan hanya membiarkan komentar tersebut disampaikan. Kadang-kadang kita melihat salah satu foto kita dan menggaruk-garuk kepala dengan rasa gelisah dan memikirkan mungkin ada yang bisa kita lakukan untuk membuat gambar tersebut lebih baik seperti gambar yang kita lihat di National Geographic atau foto-foto keren lainnya.

Jadi, Apa itu eksposur? Apa yang diekspos? Dan bagaimana melakukannya dengan benar?

Saat ini menggunakan kamera digital tinggal mengarahkan kemudian memotret dan ada bantuan auto-tune di software yang biasa kita pakai, sehingga kita kadang berfikir bahwa dasar-dasar fotografi itu sebenarnya bisa ditiadakan, karena semuanya akan diproses oleh kecanggihan kamera terbaru. Tapi tetap, foto itu akan terlihat kurang nyaman, namun tentu ada yang bisa dilakukan untuk membuatnya terlihat lebih baik.

Jawabannya tentu saja BISA dibuat lebih baik. Sesuatu bisa dilakukan untuk membuat gambar kita terlihat lebih terang, lebih berwarna, lebih berkilau, kaya, lebih jelas dan tidak buram. Secara singkat lebih profesional. Tapi kita harus benar-benar memahami dasar. Tidak ada di dunia ini peralatan digital yang canggih dan semua software hanya akan dapat berjalan dengan baik jika didukung oleh pengetahuan dasar mengenai peralatan dan tekniknya. Sehingga, jika kita tetap ingin serius mengenai fotografi, akan banyak waktu yang dibutuhkan untuk memahami sebab, mengapa, dan bagaimana.

Ini pasti klise bagi fotografer profesional, ketika seseorang melihat salah satu foto mereka yang indah, akan ada pertanyaan, “Peralatan apa yang kamu gunakan? Itu pasti kamera yang sangat spesial”. Mereka akan menjawab dengan sopan, tapi di dalam hati mereka, jika kita bisa mendengar, mereka berkata, “ini bukan tentang kamera, bro. Tidak kah kamu mengetahui berapa lama untuk sekolah, belajar, teori dan praktik untuk mendapatkan hasil yang baik seperti ini?” dan itu memang benar. Kita bisa memberikan mereka kamera yang biasa saja, dan mereka tetap akan menghasilkan gambar yang lebih baik daripada orang yang tidak memiliki pengetahuan tapi dengan perlengkapan DSLR tercanggih.

Jadi mari kita kembali pada tema Exposure. Jika anda sudah pernah mengetahuinya sebelumnya, anda bisa melanjutkan membaca untuk mengulang kembali agar semakin paham. Jika anda orang yang memahaminya tapi masih kurang jelan, coba membaca dengan seksama dan jangan ada yang terlewatkan. Sebagai fotografer kita harus memegang prinsip tersebut. Ini informasi dasar. Tapi mengejutkan, banyak fotografer yang tidak pernah memahami hal ini dan hanya kebingungan, bertanya-tanya mengapa hasilnya tidak seperti harapan mereka. Jadi ini penting untuk memastikan anda benar-benar memahami poin ini.

Apa itu Exposure?

Foto dibuat dengan memfokuskan beberapa cahaya yang masuk ke dalam lensa oleh material penerima cahaya dari mana cahaya itu berasal. Pada Film, foto ditangkap dengan proses kimia. Dalam fotografi digital, cahaya jatuh pada sensor dan ditangkap oleh dan direkam secara elektronik. Pada keduanya, gambar yang kita lihat dari kamera diproyeksikan ke material penerima cahaya yang kemudian gambar di rekam. Itu adalah film atau sensor yang terpapar oleh cahaya yang datang melalui lensa. Exposure mengatur cahaya yang dibiarkan jatuh ke material penerima cahaya film atau sensor. Berapa banyak cahaya dan berapa lama.

Exposure yang benar berarti memiliki jumlah cahaya yang benar yang dibiarkan jatuh pada sensor atau film untuk menghasilkan foto terlihat seperti yang kita inginkan. Segelap dan seterang yang kita inginkan foto tersebut terlihat.

Overexposure sensor atau film menerima terlalu banyak cahaya. Gambar terlihat seperti luntur, warna sangat putih, dan tak bermutu, detail gambar pada area cahaya yang tinggi hilang dan semua menjadi sangat putih. Wajah sehat atau orang dalam gambar terlihat pucat dan sedikit sakit, matanya pucat dan datar.

Underexposure berarti tidak cukup cahaya yang masuk untuk mengisi film atau sensor. Gambar terlalu gelap, daerah gelap foto sangat hitam dan kehilangan detail. Dalam keadaan ekstrem wajah manis dan indah seorang gadis telah berubah menjadi gelap, gumpalan gelap dimana kita tidak lagi bisa melihat mata yang indah, apalagi mengetahui warna yang sebenarnya. Sebagai contoh adalah foto di bawah ini.

Correct exposure

Correct exposure

Overexposed

Overexposed

Underexposed

Underexposed

Tapi tentu saja ada takaran yang tepat untuk setiap kondisi. Ada kekecewaan pada sunset yang indah dimana langit terlihat sangat dramatis namun kita kehilangan efek tersebut di hasil foto kita. Atau warna yang lembut pada kumpulan mawar yang ternyata terlihat agak keruh dan gelap ketika kita menceta foto yang kita ambil.

Gunakan Hati! Ketika kita memahami exposure, semua kekhawatiran dapat dirubah menjadi sebuah kesuksesan. Butuh waktu lama untuk mencari tau ini, jadi jangan berkecil hati jika tidak segera anda kuasai. Jika kita memotret digital, seperti kebanyakan fotografer saat ini, kemudian menginginkan pencahayaan terlihat lebih terang di foto, kita harus melebihkan cahaya yang ada masuk ke dalam kamera. Jika foto terlalu gelap, kita harus memberikan lebih banyak cahaya. Jika terlalu terang, kita harus menguranginya. Jika kita menggunakan film, itu jauh lebih rumit karena selain harus benar pada saat memotret, hasil akan bagus jika kita benar saat mencetak film. Jika hasil cetak terlalu gelap, negatif kita terlalu gelap. Jika hasil cetak kita terlalu terang negatif kita terlalu terang. Jika kita memotret dengan digital, tidak perlu khawatir untuk mencoba memahami hal tersebut. Cukup sampaikan terima kasih pada potret digital dan ingat: Terlalu gelap? Underexposed. Terlalu Terang? Overexposed. Ini jauh lebih mudah. Berikutnya kita akan masuk ke cara mendapatkan hasil yang tepat seperti yang kita inginkan.

Exposure yang Tepat

Secara umum berbicara mengenai exposure yang tepat adalah mengenai pencahayaan (bagian paling ringan dari sebuah foto seperti refleksi matahari di atas air, atau bagian putih dalam mata) yang cerah tanpa kehilangan ditail yang bagus, terdapat range warna yang penuh dalam dari terang sampai yang paling hitam, kita masih bisa melihat detail penting di area gelap. Tapi pada akhirnya, exposure yang tepat berarti warna dalam foto (Terang, sedang, gelap, dan diantaranya) terlihat seperti yang kita inginkan. Jika kita bisa menghasilkan gambar yang terlihat seperti yang kita inginkan sesuai dengan warna gelap dan terang, berarti kita sudah menguasai exposure.

Dan mungkin berita terbaik, hanya ada tiga faktor yang mempengaruhi exposure benar dan salah dan kita dapat mengontrol ketiganya, bahkan pada setiap kamera yang bisa kita pakai, apalagi pada kamera DSLR.

Dan saat ini melalui kamera dan software editing foto kita dapat lebih  mengontrol daripada fotografer tua yang hanya berjuang di ruangan gelap,  tangan mereka dikotori oleh cairan kimia, yang saat ini mereka akan iri pada peralatan yang kita miliki untuk membuat foto yang sempurna. Ini waktu yang sangat tepat untuk menjadi fotografer.

Segitiga Exposure

Segitiga Exposure

Segitiga Exposure

Ada tiga cara untuk mengatur exposure saat memotret. Dikatakan “saat memotret” karena ada juga banyak cara untuk mengaturnya setelah pemotretan, pada komputer kita bisa mengatur secara digital, atau saat mencetak jika kita menggunakan film. Tapi perli diingat: tidak peduli seberapa canggih foto editing yang kita punya atau seberapa jago kota menggunakannya, atau seberapa profesional lab yang memproses foto kita, kita tetap harus mendapatkan exposure terbaik dengan kamera yang kita gunakan dan tidak bergantung pada proses editing pasca pemotretan. Semakin baik bahan baku (RAW) semakin baik juga foto yang akan kita hasilkan.

Pengaturan ISO

Kontrol pertama adalah pengaturan ISO. ISO sebagai International Standards Organization (Standar Organisasi Internasional). Dalam fotografi ini adalah angka yang menunjukkan seberapa sensitif film atau sensor untuk menerima sejumlah cahaya. Pada film ISO merujuk pada “Kecepatan Film”. Kita bisa membeli film dengan ISO 50. Ini disebut “Film Lambat” karena ini sangat tidak sensitif pada cahaya. Kita dapat membeli Film ISO 1600 yang sangat sensitif (cepat) dan sangat berguna pada cahaya yang rendah dimana kita memotret aksi (pertandingan basket). Kita dapat mengatur kamera digital kita dengan ISO 100 atau 1600 atau lebih rendah dan lebih tinggi untuk mengatur sensitivitas sensor kamera kita. Pengaturan nilai ISO yang  lebih tinggi, artinya sensor atau film kita lebih sensitif dalam menerima cahaya yang masuk.

Aperture

Poin kedua adalah Aperture (yang disebut juga dengan bukaan). Ini adalah lubang pada kamera yang dilalui cahaya. Biasanya berada pada lensa, ini diatur melalui pengaturan tingkatan angka diafragma, pada umumnya logam, yang dapat disesuaikan untuk mengatur lubang cahaya yang lebih lebar atau lebih sempit. Pengaturan biasanya disebut dengan pengaturan “F” dan biasanya terdiri dari nomer f1.4, f1.8, f2.0, f2.8, f3.5, f4.0, f5.6, f8 hingga f32, f64. Nomer yang lebih besar berarti lubang cahaya yang lebih sempit. Bagaimana mendapatkan angka tidak terlalu penting. Yang jelas semakin luas aperture, maka akan semakin banyak cahaya yang masuk ke dalam kamera dalam satuan waktu. Dan ini dapat diatur.

Shutter Speed

Kontrol ketiga adalah shutter speed. Mekanismenya adalah dengan mengatur berapa lama waktu cahaya dibiarkan masuk melalui bukaan Aperture untuk mengenai film atau sensor. Ketika kita tidak sedang memotret, shutter dalam keadaan tertutup. Saat kita menekan tombol exposure di kamera, dia terbuka untuk waktu yang telah ditentukan, terbuka pada waktu tertentu dan kemudian langsung menutup lagi. Bisa satu detik, atau beberapa detik, tapi lebih sering sepersekian detik, seperti 1/30, 1/125, atau 1/1000 detik, yang sangat cepat. Kembali ke zaman dulu, ketika mereka menggunakan piringan kaca untuk merekam gambar yang sangat tidak sensitif pada cahaya, “shutter” digunakan untuk menutup lensa dimana fotografer akan membuka rana secara manual dengan perhitungan waktu dengan menggunakan bantuan jam atau stopwatch dan berhenti pada beberapa detik atau menit. Tidak heran jika model yang digunakan menggunakan penahan leher untuk foto portrait mereka. Dan tidak heran jika model terlihat lebih kaku di hasil cetakan foto sepia pada awal fotografi mulai ada.

Triangle/Segitiga

Ketiga faktor tersebut berkerja bersama dan hampir selalu ada kesalingtergantungan antara ketiganya dimana saat kita mempertahankan salah satu maka kita akan mengorbankan salah satu atau kedua yang lainnya. (akan dibahas lebih dalam di artikel berikutnya). Namun ketiganya tetap bekerja sama. Sebagai contoh, shutter speed yang lebih cepat membutuhkan aperture yang lebih lebar jika kita ingin sukses dengan exposure yang sama. Anda dapat melihat alasannya. Jika kita membiarkan cahaya masuk dalam waktu yang singkat, maka kita harus memasukan cahaya yang lebih banyak dalam satu waktu tersebut untuk mendapatkan exposure yang sama. Jika kita ingin menggunakan bukaan yang lebih sempit maka kita harus menggunakan shutter speed yang lebih lambat. Cahaya yang masuk lebih sedikit dalam satuan waktu maka dibutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan hasil yang sama pada film atau sensor. Dan ketika keduanya saja tidak cukup cahaya untuk mendapatkan exposure yang layak dan tetap ingin mendapatkan foto yang tajam, kita dapat meningkatkan pengaturan ISO atau menggunakan Film yang lebih cepat.

Kita menguasai ketiga kontrol tersebut saat memotret dengan exposure yang benar. Dan saat kita menggunakan pengaturan full otomatis ketiga pengaturan tersebut tidak akan mengkonfirmasi pengaturan dari kita, pengaturan otomatis tidak akan selamanya tepat dan kamera tidak bisa memahami apa yang kita inginkan dari pengaturan ketiga kontrol tersebut sehingga kemampuan kita mengontrol ketiganya untuk berbagai kondisi yang dibutuhkan sangat dibutuhkan jika kita ingin mendapatkan hasil yang bagus dari jepretan kita.

Iklan

One comment on “Jangan Motret Sebelum Mengetahui Dasar-Dasar Exposure

  1. […] Tulisan ini adalah sambungan atau lanjutan dari postingan sebelumnya. tulisan ini tidak dapat berdiri sepenuhnya sehingga saya sarankan anda untuk terlebih dahulu membaca Jangan Motret Sebelum Mengetahui Dasar-Dasar Exposure. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: