Tinggalkan komentar

Memotret dengan Aturan Sepertiga untuk Gambar Yang Lebih Dinamis

thumb1Yang disebut dengan “aturan sepertiga” berlaku untuk semua bentuk fotografi termasuk digital, film, video, bahkan pada lukisan dan desain grafis. Namun demikian aturan ini bukan lah aturan satu-satunya. Ini adalah alat atau pedoman yang bisa digunakan dalam keadaan tertentu untuk membuat komposisi  yang lebih efektif dalam foto kita.

Ketika ia menjadi sebuah aturan, foto kita bisa kehilangan kesegaran dan spontanitas dan mulai terlihat seperti hasil karya orang lain yang mengikuti aturan sepertiga tadi.

Tapi prinsip dasar dari komposisi, senior dari aturan adalah ide yang ingin anda wujudkan untuk membangun suasana hati atau untuk mengomunikasikan sebuah pesan dalam foto kita. Komposisi adalah apa yang kita lakukan untuk menyampaikan pesan tadi atau suasana yang ingin kita bentuk. Sebuah aturan selalu tunduk mengikuti konsep dasar. Dan seperti aturan sepertiga, dia hanya akan bernilai manakala membantu kita dalam menyampaikan pesan fotografi yang kita inginkan.

Kita mungkin sering melihat orang yang baru dalam fotografi digital ataupun film yang tidak memiliki mata yang bagus dalam memutuskan sebuah komposisi, maka mereka sering menempatkan subjeknya tepat di tengah frame. Ini pasti membuat gambar terlihat statis. Tidak memiliki kekuatan, gerakan atau emosi. Kadang kala memang itu yang kita inginkan. Tapi katakanlah saat ini kita ingin membuat sedikit emosi atau kegembiraan dalam foto kita, ide yang bergerak dan memiliki aksi. Untuk menghindari foto yang terlihat statis.

 rule-of-thirds

Aturan sepertiga adalah alat yang bisa kita gunakan untuk membantu. Dengan aturan ini, gambar dibagi menjadi 9 kotak dengan menggambar atau membayangkan dua garis vertikal dan dua haris horizontal, menciptakan kotak sederhana. Teorinya (dan kita dapat mencoba ini untuk memastikannya bekerja dengan baik) adalah point penting dari subjek harus diletakkan pada salah satu dari empat titik dimana garis saling memotong. Juga kunci pada garis vertikal dan horizontal (langit adalah contoh yang jelas) harus diletakkan sepanjang garis horizontal atau vertikal untuk mengikuti aturan sepertiga. Jika subjek kita bergerak, kita membutuhkan ruang di depan subjek. Jadi jika seseorang atau mobil bergerak ke dalam bingkai, sarannya adalah menempatkan mereka pada titik potong yang menyisakan dua pertiga bagian frame di depan mereka.

Berikut adalah contoh menggunakan aturan sepertiga.

Jika kita membuat foto portrait seseorang (Close Up) dan mata adalah pusat perhatian, letakkan mereka di bagian atas persilangan garis.

Dalam pemandangan laut dimana ada garis cakrawala dan mungkin di sana terdapat kapal layar yang cukup besar di dalam foto, coba untuk meletakkan garis cakrawala tidak tepat di tengah frame, tetapi di bawah atau di atas garis (sepertiga dari atas frame atau sepertiga dari bawah frame).

rule-of-thirds-2

Bahayanya ketika mengikuti aturan sepertiga dalam setiap keadaan adalah: semua fotografer lain sudah mempelajari aturan sepertiga akan menggunakannya, sehingga menggunakan aturan tersebut pada subjek yang sama akan menghasilkan foto yang kurang lebih mirip. Jadi jika menginginkan gambar kita mampu berdiri sendiri dan berbeda dengan yang lain, silahkan ikuti aturan sepertiga (dan seluruh aturan komposisi dalam fotografi) secara cerdas dan terus kembangkan, serta bebaskan diri untuk mencoba mencapai konsep yang lebih baik dalam komposisi, yaitu dengan mengatur unsur-unsur foto sehingga dapat menyampaikan suasana hati yang ingin di sampaikan atau pun pesan yang ingin dikirim.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: