Tinggalkan komentar

Wajah Krisis Anambas

IMG_1273

Bagi saya yang terlahir sebagai bagian dari generasi 90an, cerita krisis sebenarnya hanya sebuah cerita hantu yang kami tidak pernah mengetahui wujudnya. Krisis paling fenomenal dalam sejarah indonesia tentunya krisis yang terjadi pada tahun 1998 yang pada saat itu Presiden Soeharto terpaksa mundur. Tapi apa daya, usia saya pada saat itu baru lah 8 tahun. Apa yang dipahami anak desa 8 tahun pada masa itu? Siaran ultramen dan satria baja hitam tentu tontonan lebih menarik bagi kami, daripada mengitu warta berita yang kami tidak pernah paham apa yang sedang diberitakan.

Krisis ke dua yang mungkin saya pernah mendengar beritanya adalah krisis global pada tahun 2008. Krisis terbesut pun tidak saya pahami terlalu dalam, karena yang saya tahu yang terkena dampak dari krisis tersebut hanyalah mereka pomodal-pemodal kaya raya yang uang di rekeningnya mungkin sudah tidak berseri. Tapi bagi saya, apalah makna krisis tersebut, selama kami masih dapat membeli makanan di kantin bawah asrama, mahasiswa baru IPB saat itu, seharga Rp5.000,- hingga Rp7.000,-.

Kali ini, awal tahun 2016 setelah Indonesia mendapatkan kado tahun baru berupa penurunan harga BBM, saya kembali dihadapkan pada krisis. Krisis kali ini terjadi di kabupaten tempat saya bertugas, Kapupaten Kepulauan Anambas, Sangat jauh dari peradaban megahnya Ibu Kota Jakarta, hanya beberapa menit naik Speedboat, kami mungkin sudah tiba di kawasan laut cina selatan. Wajah krisis di kabupaten ini terlihat sangat menyeramkan. Saya memang tidak masuk dalam kelompok yang secara langsung merasakan krisis kali ini, tapi krisis ini sedikit banyak memberikan efek yang juga saya rasakan.

Pegawai tak Digaji 4 Bulan

Empat bulan bekerja tanpa digaji bukanlah waktu yang sebentar. Apakah artinya pagawai di sini bekerja sukarela atau gotong royong? Setidaknya inilah hal yang dirasakan oleh Pegawai Tidak Tetap (PTT) Kabupaten Anambas. Sementara 4 bulan mereka bekerja, biaya operasional harian tetap harus mereka tanggung. Inilah nasib tinggal di kepulauan, biaya transportasi lintas pulau menjadi sangat mahal, padahal tidak sedikit Pegawai yang bekerja terpisah antara pulau tempat bekerja dengan tempat tinggal.

Yang membuat nasib pegawai menjadi lebih pahit adalah, tidak ada jaminan sama sekali bahwa 4 bulan tersebut akan dicairkan oleh pemerintah. Jaminan itu sama sekali tidak ada, yang membuat pegawai selalu was-was menanti nasib setiap hari.

Tunjangan Kesra Tidak Cair

Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak terlepas dari efek krisis tersebut. Setidaknya 4 bulan terakhir mereka hanya mengantongi gaji pokok saja. Tunjungan kesejahteraan daerah sama sekali tidak diterima, bahkan dari informasi yang kami dapatkan dilapangan, beberapa PNS pun tidak mendapatkan gaji selama 2 bulan ke belakang. Alasan yang mereka terima dari pemerintah daerah begitu singkat, yakni “Kas Daerah Kosong”.

Kantor Desa Akan Ditutup

Dana operasional desa pun selama 4 bulan terakhir tidak lagi cair. Hal ini yang membuat beberapa desa berencana untuk mogok dan menutup pelayanan di tingkat kantor desa. Walau pun masih sebatas wacana, tapi sebagian desa telah membuat sistem kerja shif bagi pegawainya. Pegawa tidak lagi didorong seluruhnya masuk kerja setiap hari, pegawai diberikan waktu untuk mengerjakan hal lain di luar pekerjaan sebagai pegawai desa. Hal ini tentu karena selama 4 bulan terakhir ini pegawai desa hingga tingkat RT dan RW sama sekali tidak mendapatkan dana operasional lagi. Saat ini kantor desa hanya buka untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, sebelum adzan dzuhur berkumandangm sebagian besar kantor desa sudah tutup dan tidak lagi ada pelayanan.

Ikan Tidak ada Pembeli

Ikan di pasar menjadi melimpah, daya beli masyarakat turun drastis. Pasar yang biasanya menjadi tempat transaksi nelayan dengan masyarakat saat ini tidak lagi semeriah biasanya. Biasanya hasil tangkapan bisa habis terjual dalam satu hari, saat ini ikan yang telah ditangkap baru bisa habis terjual setelah dijajakan hingga 3 hari.

Harga Bensin Turun

Bagian ini sudah saya bahas pada tulisan sebelumnya. Setalah kami pelajari lebih dalam di lapangan, penurunan harga bensin hingga Rp1.000,- per botol sebenarnya sama sekali tidak dipengaruhi oleh kebijakan penurunan harga BBM yang dikeluarkan oleh pemerintah. Penurunan ini lebih pada kesadaran para pengecer Bensin yang memahami situasi di daerahnya bahwa daya beli masyarakat tidak lagi seperti dulu.

Pelabuhan Sepi

Semakin berkurangnya uang yang beredar di masyarakat barangkali membuat mobilitas masyarakat semakin  terbatas. Setidaknya hal ini dapat dilihat pada aktifitas pelabuhan. Sebut saja pelabuhan Matak, pelabuhan yang paling ramai pada hari biasa. Awal menapakkan kaki di kabupaten ini, saya hanya perlu menunggu paling lama 30 menit untuk memenuhi kapasitas speedboat yakni 7 orang. Tapi beberapa perjalanan kemarin, lebih dari 45 menit menunggu penumpang masih saja sepi hingga beberapa penumpang rela membayar untuk 2 bangku kosong agar speedboat cepat berangkat.

Kabupaten ini Pernah Berjaya

Ada yang bilang, kita tidak akan mengetahui pahit jika kita tak tahu rasanya manis. Setidaknya inilah yang membuat kabupaten ini begitu terpukul dengan krisis yang melanda mereka saat ini. Beberapa tahun silam, kejayaan sempat mampir di desa ini, bahkan saat uang tidak lagi bernilai di sini. Uang di bank bahkan sering kosong karena besarnya nilai transaksi masyarakat. Keindahan masa lalu itu membuai masyarakat sehingga tidak mampu kembali ke masa sebelumnya. Postingan berikutnya akan saya bahas, bagaimana jayanya Kepulauan Anambas kala itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: