Tinggalkan komentar

Musim Utara Anambas

IMG_1948

Sebelum datang ke tempat ini, aku hanya memahami bahwa Indonesia hanya terdiri dari musim hujan dan musim kemarau. Namun beberapa saat setelah sampai di sini, istilah musim itu tidak lagi berdasarkan musim hujan dan musim kemarau. Lebih kompleks dan lebih sulit untuk di pahami. Bicara musim, kami disini langusng ditakut-takuti dengan istilah musim utara yang sebentar lagi akan menyapa negeri ini.

Musim utara pada dasarnya hanyalah musim dimana angin bertiup dari utara ke selatan, dan begitu juga dengan musim timur, barat, dan selatan dan arah mata angin lainnya. Namun musim utara memang memiliki penyambutan yang berbeda dari masyarakat. Musim ini akan menjadi musim yang sangat berat karena tiupan angin sangat kencang, konon katanya tidak hanya angin kencang yang membuat gelombang tinggi, namun tidak jarang kapal-kapal yang terparkir dipelabuhan terbalik oleh derasnya tiupan. Katanya musim ini akan berlangsung dari awal desember hingga awal maret.

Perjalanan kami terus berlanjut di sini, memasuki bulan November, lanjut ke Desember, dan Tiba di bulan Januari, bahkan masuk ke awal bulan Februari, angin utara itu seolah hanya sebuah mitos. Tak ada perbedaan signifikan dari kondisi alam yang saya alami. Semuanya biasa saja, angin bertiup, seperti biasa angin memang bertiup. Gelombang lautan? Laut memang bergelombang. Benar-benar tidak ada aneh dari musim utara. Seolah-olah musim ini adalah musim yang sengja dibuat-buat untuk ditakuti.

Namun, semua berubah memasuki minggu ke dua bulan februari. Saat itu langit tiba-tiba gelap, perlahan angin mulai bertiup. Semakin kencang, semakin kencang, semakin kencang dan terusm semakin kencang. Pohon-pohon bertahan menghadapi angin, Pohon kelapa di dekat rumah kami setengah ruku’ menahan tiupan angin. Hujan tiba-tiba turun begitu lebat, lebat selebat-lebatnya. Ah, ini kan musim utara yang sebenarnya sering diceritakan itu? Hanya itu isi hati yang berguman. Kencangnya tiupan angin angin bertahan dari pagi, sore tak berhenti. Bahkan malam amukannya tetap menyeramkan. Petang hari, pasang air laut begitu tinggi, lebih tanggi dari biasanya, atau inilah pasang laut yang paling tinggi semenjak saya tinggal di sini.

Tingginya permukaan air laut menggenangi lapangan bola di bawah sana. Jangankan tergenang, lapangan itu rasanya tak pernah tersentuh air laut sebelumnya. Rumah-rumah warga yang tinggal di bawah sana sedikit tergenang, hanya sebatas mata kaki memang, tapi itu tidak pernah terjadi selama ini. Apalagi rumah tersebut memang rumah panggung di atas lautan. Yah… rumah khas ala pesisir, bangunan panggung di atas lautan.

Di desa lain, air laut tinggi hampir setara dengan jalan, karena sudah biasa berhadapan dengan musim seperti ini, mereka, orang-orang yang tinggal di sini malah melempar candaan, “kalau sedikit lagi lebih tinggi, kita bisa naik “jongkong” (Sampan) di jalan raya.

Musim utara memang memiki banyak kenangan pahit bagi masyarakat. Pada musim ini harga-harga dapat tiba-tiba melambung tinggi. Nelayan tidak dapat melaut karena angin dan gelombang yang tinggi, katanya dapat mencapai tujuh meter. Ini berdampak pada sulitnya suplai ikan di pasaran yang membuat harga ikan menjadi tinggi. Demikian juga, pada musim utara kapal-kapal suplai bahan makanan dari tanjung pinang atau batam pernah tak dapat mengirim bahan sembako sehingga wilayah ini terpaksa merasakan ksisis pangan. Mobilitas bisa berhenti total saat musim ini. Sebagian besar waktu masyarakat habis hanya bersantai di rumah. Tak banyak yang bisa dilakukan. Selain menunggu musim ini segera berlalu.

Pada tulisan berikutnya, akan saya ceritakan bagaiman masyarakat di Anambas hidup menghadapi musim Utara.

Musim utara tahun ini memang datang terlambat dari tahun-tahun sebelumnya. Seperti halnya musim hujan dan musim kemarau yang semakin tak dapat diperkirakan datangnya, musim angin di pesisir juga semakin sulit untuk diramalkan. Perubahan alam, entah fakta atau mitos, pada kenyataannya telah membuat nelayan merasakan kebingunan dalam membaca siklus musim yang sejak dahulu kala menjadi bekal mereka dalam mencari penghidupan di tengah samudra.

Musim utara itu benar-benar menyeramkan, ia bukan mitos. Ia adalah kenyataan yang menghampiri kami agar tidak lupa bersyukur saat diberikan musim angin teduh. Musim surganya ikan bagi nelayan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: